kehidupan berhenti berjalan. Matematika berkembang oleh karena degup kehidupan. Selama kita berpikir,itu artinya kita telah mengukir sejarah dengan ...MATEMATIKA
Matematika adalah buah peradaban. Matematika lenyap jika kehidupan berhenti berjalan. Matematika berkembang oleh karena degup kehidupan. Selama kita berpikir, itu artinya kita telah mengukir sejarah dengan ... MATEMATIKA
20 Mei 2009
Kita Butuh Matematika
kehidupan berhenti berjalan. Matematika berkembang oleh karena degup kehidupan. Selama kita berpikir,itu artinya kita telah mengukir sejarah dengan ...MATEMATIKA
12 Mei 2009
Beberapa Aliran Teori Belajar

Aliran Teori Belajar
Menurut Atkinson dan Gredler Margaret Bell secara umum teori belajar dapat dikelompokkan dalam empat aliran, yaitu:
a. teori belajar behavioristik;
b. teori belajar kognitif;
c. teori belajar humanistik;
d. tori belajar sibernetik (Hamzah B. Uno, 2005:6).
A. Aliran Behavioristik (Tingkah Laku)
Pandangan tentang belajar menurut aliran behavioristik adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Artinya, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Para ahli yang banyak berkarya dalam aliran ini antara lain: Thorndike, watson,
Menurut Thorndike belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Menurutnya perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret atau yang nonkonkret.
Berbeda dengan Thorndike, menurut Watson stimulus dan respon harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati. Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui.
Clark Hull mengemukaan konsep pokok teorinya yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusi. Menurutnya tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup.
Skinner merupakan penganut paham neobehavioris yang mengalihkan dari laboratorium ke praktek kelas. Menurutnya deskripsi hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan perubahan tingkah laku menurut Watson tidaklah lengkap. Respon yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi itu akhirnya memengaruhi respon yang dihasilkan. Sedangkan respon tersebut juga menghasilan berbagai konsekuensi yang akan memengaruhi tingkah aku siswa.
B. Aliran Kognitif
Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil beajar. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tetapi, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Beberapa ahli yang mendukung teori kognitif adalah Piaget, Ausubel, dan Bruner.
Menurut jean Piaget proses belajar terdiri dari tiga tahapan, yaitu:
1. proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa (asimilasi);
2. proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru (akomodasi);
3. proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi (equilibrasi).
Bruner berpendapat bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang menjadi sumbernya.
C. Aliran Humanistik
Teori ini memuat gagasan bahwa proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Teori humanistik lebih mendekati pada dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam kenyataannya teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa adanya. Teori ini dianut oleh Bloom dan Krathwohl, Kolb, Honey dan Mumford, serta Habermas.
Bloom dan Krathwohl mengemukakan tiga hal yang bisa dikuasai oleh siswa, meliputi: ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah Afektif. Tiga ranah itu tercakup dalam teori yang lebih dikenal sebagai Taksonomi Bloom.
Kolb membagi tahapan belajar ke dalam empat tahapan, yaitu:
a. pengalaman konkret;
b. pengamatan aktif dan reflektif;
c. konseptualisasi;
d. eksperimentasi aktif.
Habermas berpendapat bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Lebih lanjut ia mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian, yaitu:
a. belajar teknis;
b. belajar praktis;
c. belajar emansipatoris.
D. Aliran Sibernetik
Teori beraliran sibernetik berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi. Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Sama dengan aliran kognitif, teori sibernetik juga mementingkan proses, tetapi yang lebih penting adalah sistem informasi yang diproses. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses. Teori ini dikembangkan oleh Landa, Pask dan Scott.
Menurut Landa ada dua proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu sasaran. Jenis kedua adalah cara berpikir heuristik, yakni cara berpikir divergen menuju ke beberapa sasaran sekaligus.
Senada dengan Landa, Pask dan Scott juga membagi proses berpikir manjadi dua macam. Pertama pendekatan serialis yang menyerupai pendekatan algoritmik yang dikemukakan Landa. Jenis kedua adalah cara berpikir menyeluruh yaitu berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi.
Peranan Teori Belajar dalam Praktek Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari (Gatot Muhsetyo,2007:26).
Lebih lanjut Gatot Muhsetyo mengemukakan bahwa salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah penggunaan strategi pembelajaran matematika, yang sesuai dengan:
1. topik yang sedang dibicarakan;
2. tingkat perkembangan intelektual peserta didik;
3. prinsip dan teori belajar;
4. keterlibatan aktif peserta didik;
5. keterkaitan dengan kehidupan peserta didik sehari-hari;
6. pengembangan dan pemahaman penalaran matematis (2007:26).
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bawa teori belajar menjadi salah satu unsur yang berperan pada ketercapaian tujuan pembelajaran matematika di sekolah. Lebih jelas dikemukakan oleh Herman Hudojo bahwa pada prinsipnya tujuan belajar matematika merupakan sasaran utama. Sedangkan teori belajar merupakan strategi terhadap pemahaman matematika (1988:95).
Teori belajar sebagai strategi belajar mengajar matematika dapat mengarahkan peserta didik untuk memahami dan menguasai matematika. Apabila memang diperlukan walaupun matematika itu abstrak, maka pendekatan konkret perlu disajikan terlebih dahulu (Herman Hudojo,1988:95).
Berkaitan dengan efektivitas pengajaran matematika, National Research Council merangkum:
“Guru yang efektif adalah guru yang dapat menstimulasi siswa belajar matematika. Penelitian pendidikan matematika menawarkan sejumlah bukti bahwa siswa akan belajar metematika secara baik ketika mereka mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri. Untuk memahami apa yang mereka pelajari mereka harus bertindak dengan kata kerja mereka sendiri memembus jurikulum matematika: menguji, menyatakan, mentransformasi, menyelesaikan, menerapkan, membuktikan, dan mengkomunikasikan. Hal ini pada umumnya terjadi ketika siswa belajar dalam kelompok, terlibat dalam diskusi, membuat presentasi, dan bertanggung jawab dengan yang mereka pelajari sendiri” (Turmudi,2008:71).
Dari uaraian tersebut jelaslah bahwa guru hendaknya memmahami kegunaan masing-masing teori belajar. Karena pemilihan teori belajar yang tepat dapat mempermudah proses belajar peserta didik untuk mencapai kompetensinya.
Dalam belajar matematika di sekolah dasar perlu kiranya untuk memperhatikan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah dasar, antara lain:
1. pertumbuhan fisik dan motorik maju pesat;
2. kehidupan soasialnya diperkaya selain kemampuan dalam hal bekerja sama juga dalam hal bersaing dan kehidupan kelompok sebaya;
3. semakin menyadari diri selain mempunyai keinginan, perasaan tertentu juga semakin bertumbuhnya minat tertentu;
4. kemampuan berpikirnya masih dalam tingkat persepsional;
5. dalam bergaul, bekerja sama tidak membedakan jenis yang menjadi dasar adalah perhatian dang pengalaman yang sama;
6. mempunyai kesanggupan untuk memahami hubungan sebab akibat;
7. ketergantungan kepada orang dewasa semakin berkurang (Tim Dosen IKIP Malang,1987:115).
Herman Hudojo berpendapat bahwa peserta didik di tingkat sekolah dasar lebih sering menggunakan obyek-obyek yang mereka lihat. Pengalaman tangan pertama dengan obyek-obyek amat perlu untuk kepentingan belajar. Hal ini merupakan dasar bagi periode berpikir operasi konkret (1988:96).
Jadi amatlah perlu bagi pengajar untuk menentukan materi belajar yang akan diterima peserta didik, menggunakan teori belajar yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa dan bisa secara efektif meggunakannya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
21 April 2009
Proposal PTK
A. JUDUL USULAN
Meningkatkan hasil belajar matematika materi perbandingan dan skala dengan model pembelajaran konstruktivistik bermedia tabel bercerita pada siswa kelas VI SD Islam Al Azhar 14 Semarang.
B. BIDANG KAJIAN
Bidang kajian adalah penelitian pendidikan dengan PTK.
C. PENDAHULUAN
Kemajuan suatu bangsa tercermin pada keberlangsungan pendidikan bangsa itu. Bangsa dengan tingkat pendidikan yang memadai diyakini mampu menciptakan kehidupan yang beradap. Artinya peningkatan mutu pendidikan dianggap sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Oleh karena itu, pendidikan perlu mendapat perhatian yang besar agar kita dapat mengejar ketertinggalan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi yang mutlak kita perlukan untuk mengisi pembangunan.
Guru memegang peran strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dari dimensi tersebut, peran guru sulit digantikan oleh yang lain. Dipandang dari dimensi tehnologi peran guru tetap dominan sekalipun tehnologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat. Hal ini disebabkan ada dimensi-dimensi proses pendidikan, atau lebih khusus lagi proses pembelajaran, yang diperankan oleh guru yang tidak dapat digantikan oleh tehnologi.
Seringkali dalam pembelajaran matematika di kelas guru mendominasi kegiatan tersebut. Poros pembelajaran mutlak ada pada guru, sehingga proses belajar mengajar berjalan satu arah. Guru kurang mampu mengakomodasi permasalahan siswa-siswanya. Hal ini karena dengan jumlah jam mengajar yang terbatas, guru dituntut melaksanakan pembelajaran yang selalu menguras tenaga dan pikiran dengan model pembelajaran konvensional.
Dengan model pembelajaran konvensional siswa seakan hanya sebagai obyek pembelajaran. Setiap individu siswa pasti mempunyai tingkat pemahaman materi yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki tingkat permasalahan yang berbeda-beda. Artinya dengan model pembelajaran yang mengesampingkan peran siswa akan memberikan dampak kurang baik pada prestasi belajarnya.
Dalam pembelajaran matematika materi perbandingan dan skala sering ditemukan kesulitan belajar siswa dalam pemecahan soal cerita. Indikatornya adalah banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. Permasalahan utama yang terjadi adalah guru sering kesulitan mengajarkan algoritma pemecahan soal cerita yang efektif dan efisien.
Di sini akan dicobakan sebuah algoritma pemecahan soal-soal cerita materi perbandingan dan skala yang diberi istilah tabel bercerita. Siswa diberi kegiatan membuat tabel bercerita dari soal cerita yang dihadapinya kemudian memecahkannya. Dengan kegiatan ini diharapkan siswa aktif dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajarnya.
D. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran model konstruktivistik dengan media tabel bercerita dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi perbandingan dan skala?
2. Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika materi perbandingan dan skala dengan model konstruktivistik media tabel bercerita?
E. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
1. Mengetahui sejauh mana pembelajaran model konstruktivistik dengan media tabel bercerita dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi perbandingan dan skala;
2. Mengetahui bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika materi perbandingan dan skala dengan model konstruktivistik media tabel bercerita.
F. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah bagi:
- Siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya peningkatan hasil belajar siswa, sehingga dapat mengubah perolehan peringkat prestasi belajar yang lebih baik;
- Guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan umpan balik untuk mengadakan koreksi diri, sekaligus usaha untuk memperbaiki kualitas diri sebagai seorang guru yang profesional dalam upaya meningkatkan mutu hasil dan proses belajar siswa.
- Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan untuk mengadakan pembinaan dan peningkatan kemampuan guru sekaligus sebagai bahan masukan bagi Kepala Sekolah tentang kondisi proses pembelajaran di sekolah tersebut.
G. KAJIAN PUSTAKA
G.1 Kajian Teori
G.1.1 Model Pembelajaran Konstruktivistik
Menurut Borich dan Tombari (1997) konstruktivisme (paham yang bersifat konstruktivistik) didefinisikan sebagai suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sense mereka tentang apa yang dipelajari dengan membangun koneksi internal atau relasi antara ide-ide dan fakta-fakta yang diajarkan.
Dengan paham konstruktivistik, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk mengintergrasikan dan menggabungkan informasi dari sumber-sumber berbeda, menciptakan jenis-jenis yang baru, serta kerangka dan model-model yang baru. Dengan kata lain, guru bukan sebagai pelayan pengetahuan semata namun sebagai fasilitator belajar.
G.1.2 Tabel Bercerita
Tabel bercerita adalah sebuah media belajar yang memuat unsur kreatifitas, keaktifan dan keterampilan siswa guna mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Media ini juga berperan bagi siswa guna menguji, menyatakan, mentransformasi, menyelesaikan, menerapkan, membuktikan, dan mengkomunikasikan pemecahan suatu permasalahan matematika khususnya pada materi perbandingan dan skala.
Dengan media ini diharapkan siswa dapat aktif secara pribadi maupun dalam kelompok, terlibat dalam diskusi, membuat presentasi, dan bertanggung jawab dengan yang mereka pelajari sendiri.
G.1.3 Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran
Mengajar sebaiknya berorientasi kepada peserta didik agar mereka belajar memecahkan masalah. Orientasi yang demikian haruslah direfleksikan dalam kegiatan mengajar dan belajar sehingga keaktifan mental peserta didik nampak dalam tingkah lakunya, seperti meneliti, merumuskan, menemukan dan merefikasi.
Herman Hudoyo (1988) mengklasifikasikan keaktifan siswa meliputi:
1. Menguji: pada waktu guru memberikan materi baru, siswa terlibat secara intelaktual, yaitu dengan menguji dan eksplorasi situasi.
2. Mengungkapkan: diharapkan siswa dapat menghasilkan gambar, kata, kalimat, bagan atau tabel dengan menggunakan simbol yang sesuai dengan situasi masalahnya.
3. Mentransformasikan: siswa dapat mengubah pernyataan satu ke pernyataan yang lain. Misalnya komputasi algoritma, pembagian polinom, fungsi aljabar diubah ke bentuk grafik.
4. Membuktikan: jika siswa sudah berhasil merumuskan suatu situasi, mereka perlu membuktikannya berdasarkan argumentasi yang sahih.
5. Mengaplikasikan: siswa perlu mengaplikasikan konsep yang telah mereka ketahui dengan menemukan dengan abstraksi mereka sendiri.
6. Menyelesaikan masalah: siswa menyelesaikan masalah atau konsep yang benar-benar baru bagi mereka dengan prosedur yang telah mereka ketahui.
7. Mengkomunikasikan: siswa melakukan pertukaran informasi di antara individu siswa dengan memanfaatkan sistem simbol yang sama.
G.1.4 Hasil Belajar dan Faktor yang Mempengaruhi
Menurut Winkel (1991:42), hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai siswa di mana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas.Dalam hal ini hasil belajar meliputi keaktifan, ketrampilan proses, motivasi, juga prestasi belajar. Prestasi adalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu kegiatan, secara singkat dapat dikatakan prestasi adalah hasil usaha. Perbedaan hasil belajar dengan prestasi belajar, bahwa penilaian hasil belajar dilakukan sekali setelah suatu kegiatan pembelajaran dilaksanakan, sementara penilaian prestasi belajar dilakukan setelah beberapa kali penilaian hasil belajar dan hasil belajar yang terakhir dianggap sebagai prestasi belajar karena diharapkan merupakan hasil yang maksimal, tetapi kedua istilah tersebut dikatakan identik karena sama-sama merupakan hasil usaha yaitu belajar.
Penilaian hasil belajar adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses belajar dan pembelajaran telah berjalan secara efektif. Keefektifan pembelajaran tampak pada kemampuan siswa mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Dari segi guru, penilaian hasil belajar akan memberikan gambaran mengenai keefektifan mengajarnya, apakah pendekatan dan media yang digunakan mampu membantu siswa mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Tes hasil belajar yang dilakukan oleh setiap guru dapat memberikan informasi sampai dimana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
19 April 2009
Silabus
| S I L A B U S | ||||||
| Nama sekolah : SD Islam Al Azhar 14 Semarang | ||||||
| Mata pelajaran : Matematika | ||||||
| Kelas/program : VI (enam)/Inti | ||||||
| Semester : I(Satu) | ||||||
| Standar kompetensi :Melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah. | ||||||
| Kompetensi dasar | Materi pokok | Indikator | Kegiatan Pembelajaran | Penilaian | Alokasi | Sumber/ |
| waktu | bahan/alat | |||||
| Menggunakan sifat-sifat | Pengerjaan hitung | *Melakukan operasi hitung | Berdiskusi dan memecahkan | 1. Formatif | 12 x 35 menit | Buku paket |
| operasi hitung termasuk | bilangan bulat. | campuran pd bilangan bu- | soal. | 2. PR | ||
| operasi campuran, FPB | lat. | 3. Tugas | ||||
| dan KPK. | *Menggunakan faktorisasi | Membuat faktorisasi prima. | 4. Portofolio | |||
| prima untuk menentukan | Membuat faktorisasi prima un- | |||||
| FPB dan KPK sampai tiga | tuk menentukan FPB dan KPK. | |||||
| bilangan. | ||||||
| Menentukan akar pang- | Pengerjaan hitung | *Mengenal bilangan kubik. | Membuat definisi bilangan kubik | 1. Formatif | 12 x 35 menit | Buku paket |
| kat tiga suatu bilangan | bilangan bulat. | *Menuliskan sejumlah bi- | Menyebutkan 10 bilangan | 2. PR | ||
| kubik. | langan kubik. | kubik pertama. | 3. Tugas | |||
| *Mengenal akar pangkat | Menyebutkan akar pangkat tiga | 4. Portofolio | ||||
| tiga. | dari 10 bilangan kubik pertama. | |||||
| *Menentukan akar pangkat | Mencari akar pangkat tiga dari | |||||
| tiga dari bilangan kubik. | bilangan kubik lainnya. | |||||
| Menyelesaikan masalah | Pengerjaan hitung | *Menentukan volume ku- | Mengukur panjang rusuk kubus | 1. Formatif | 12 x 35 menit | Buku paket |
| yang melibatkan operasi | bilangan bulat. | bus yang diketahui pan- | untuk mengetahui volumenya. | 2. PR | ||
| hitung termasuk penggu- | jang rusuknya. | 3. Tugas | ||||
| naan akar dan pangkat. | *Menentukan panjang ru- | Berdiskusi memecahkan soal- | 4. Portofolio | |||
| suk sebuah kubus yang di | soal cerita. | |||||
| ketahui volumenya. | ||||||
| *Mengerjakan soal cerita. | ||||||
| S I L A B U S | ||||||
| Nama sekolah : SD Islam Al Azhar 14 Semarang | ||||||
| Mata pelajaran : Matematika | ||||||
| Kelas/program : VI (enam)/Inti | ||||||
| Semester : I(Satu) | ||||||
| Standar kompetensi :Menggunakan pengukuran volume per waktu dalam pemecahan masalah. | ||||||
| Kompetensi dasar | Materi pokok | Indikator | Kegiatan Pembelajaran | Penilaian | Alokasi | Sumber/ |
| waktu | bahan/alat | |||||
| Mengenal satuan debit | Pengukuran | *Mengenal istilah debit. | Meneliti debit kran air. | 1. Formatif | 8 x 35 menit | Buku paket |
| Debit | *Mencari hubungan antara | Berdiskusi mencari hubungan | 2. PR | |||
| debit dengan kecepatan. | debit dan kecepatan. | 3. Tugas | ||||
| *Membuat rumus debit. | Berdiskusi membuat rumusan | 4. Portofolio | ||||
| debit. | ||||||
| Menyelesaikan masalah | Pengukuran | *Menentukan besar debit | Melakukan diskusi dan menger- | 1. Formatif | 6 x 35 menit | Buku paket |
| yang berkaitan dengan | Debit | *Menentukan volume air. | jakan soal-soal. | 2. PR | Alat peraga | |
| satuan debit. | *Menentukan waktu yang | 3. Tugas | ||||
| diperlukan untuk satuan | 4. Portofolio | |||||
| volume tertentu. | ||||||
| S I L A B U S | ||||||
| Nama sekolah : SD Islam Al Azhar 14 Semarang | ||||||
| Mata pelajaran : Matematika | ||||||
| Kelas/program : VI (enam)/Inti | ||||||
| Semester : I(Satu) | ||||||
| Standar kompetensi :Menghitung luas segi banyak sederhana, luas lingkaran, dan volume prisma segitiga. | ||||||
| Kompetensi dasar | Materi pokok | Indikator | Kegiatan Pembelajaran | Penilaian | Alokasi | Sumber/ |
| waktu | bahan/alat | |||||
| Menghitung luas segi ba- | Pengukuran | *Mengingat kembali cara | Menyebutkan rumus luas ba- | 1. Formatif | 12 x 35 menit | Buku paket |
| nyak yang merupakan | Luas | menghitung luas bangun | ngun-bangun datar. | 2. PR | Alat peraga | |
| gabungan dari dua ba- | datar sederhana. | 3. Tugas | ||||
| ngun datar sederhana. | *Menghitung luas gabung- | Membuat tangram dan berdis- | 4. Portofolio | |||
| an dua bangun datar. | kusi untuk menentukan luasnya. | |||||
| *Menghitung luas gabung- | ||||||
| an beberapa bangun datar. | ||||||
| Menghitung luas lingkaran | Pengukuran | *Mengingat kembali unsur- | Menderkripsikan tentang jari- | 1. Formatif | 8 x 35 menit | Buku paket |
| Luas | unsur penting pada ling- | jari dan diameter. | 2. PR | Alat peraga | ||
| karan (jari-jari, diameter). | 3. Tugas | |||||
| *Mengingat kembali rumus | Menyebutkan rumus luas ling- | 4. Portofolio | ||||
| luas lingkaraan. | karan. | |||||
| *Menghitung luas lingkar- | Berdiskusi dan memecahkan | |||||
| an. | soal-soal. | |||||
| Menghitung volume pris- | Pengukuran | *Mendeskripsikan prisma | Mendeskripsikan prisma segi- | 1. Formatif | 14 x 35 menit | Buku paket |
| ma segitiga dan tabung. | Volume | segitiga. | tiga dengan unsur-unsurnya. | 2. PR | Alat peraga | |
| *Menemukan rumus vo- | Berdiskusi untuk menemukan | 3. Tugas | ||||
| lume prisma segitiga. | rumus volume prisma segitiga. | 4. Portofolio | ||||
| *Mendeskripsikan tabung. | Mendeskripsikan tabung dengan | |||||
| *Menemukan rumus vo- | unsur-unsurnya. | |||||
| lume tabung. | Berdiskusi untuk menemukan | |||||
| *Memecahkan soal-soal. | rumus volume tabung. | |||||
| Memecahkan soal-soal. | ||||||
| S I L A B U S | ||||||
| Nama sekolah : SD Islam Al Azhar 14 Semarang | ||||||
| Mata pelajaran : Matematika | ||||||
| Kelas/program : VI (enam)/Inti | ||||||
| Semester : I(Satu) | ||||||
| Standar kompetensi :Mengumpulkan dan mengolah data. | ||||||
| Kompetensi dasar | Materi pokok | Indikator | Kegiatan Pembelajaran | Penilaian | Alokasi | Sumber/ |
| waktu | bahan/alat | |||||
| Mengumpulkan dan mem- | Penyajian data | *Mengumpulkan data. | Mengadakan survey sederhana. | 1. Formatif | 6 x 35 menit | Buku paket |
| baca data. | *Membaca tampilan data. | Membaca data absensi siswa | 2. PR | Alat peraga | ||
| *Membuat kesimpulan dari | Membuat ringkasan sederhana | 3. Tugas | ||||
| tampilan data yang telah | dari data absensi siswa. | 4. Portofolio | ||||
| dibaca. | ||||||
| Mengolah dan menyajikan | Penyajian data | *Mengolah data. | Menuliskan data hasil survey | 1. Formatif | 6 x 35 menit | Buku paket |
| data dalam bentuk tabel. | *Menyajikan data dalam | pada sebuah tabel. | 2. PR | |||
| tabel. | 3. Tugas | |||||
| 4. Portofolio | ||||||
| Menafsirkan sajian data. | Penyajian data | *Menentukan data teren- | Berdiskusi untuk: | 1. Formatif | 8 x 35 menit | Buku paket |
| dah. | menentukan data terendah. | 2. PR | ||||
| *Menentukan data tertinggi | menentukan data tertinggi. | 3. Tugas | ||||
| *Menentukan data yang | menentukan modus. | 4. Portofolio | ||||
| sering muncul (modus) | menentukan rata-rata. | |||||
| *Menentukan rata-rata. | ||||||
| Mengetahui | Semarang, 12 Juli 2008 | |||||
| Kepala SDI Al Azhar 14 Semarang | Guru Bidang | |||||
| Markaban, S.Pd | Restu M. Hadi | |||||
10 April 2009
Hakikat Mengajar Matematika

HAKIKAT MENGAJAR MATEMATIKA
Pearson (1989) mengatakan bahwa tujuan mengajar adalah menyempurnakan pembelajaran. Dengan menggunakan sebuah studi pengajaran matematika, kita akan memahami cara bagaimana pengajaran matematika menyempunakan pembelajaran matematika. Studi seperti itu memberikan pengertian yang mendalam bagaimana pengajaran matematika berkembang atau dapat meningkatkan hasil pembelajaran matematika pada siswa. Tentu saja pengajaran tidak berkembang secara abstrak, tetapi melalui pertumbuhan pengetahuan dan pengalaman guru matematika dalam mengajar. Secara perspektif dan praktis pendidik bekerja dengan guru untuk membantu perkembangan dan memfasilitasi guru dalam pembelajaran matematika. Kegiatan penelitian pada tingkatan ini adalah mengusahakan pembelajaran pada diri sendiri. Kemudian guru, pendidik, dan peneliti mengintegrasian kegiatan penelitian dan praktek studi pembelajaran yang mendasar.
Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahaan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.