Matematika adalah buah peradaban. Matematika lenyap jika kehidupan berhenti berjalan. Matematika berkembang oleh karena degup kehidupan. Selama kita berpikir, itu artinya kita telah mengukir sejarah dengan ... MATEMATIKA
26 Juni 2018
15 Juni 2010
Sekolah Swasta Bisa Jadi Pilihan
Menjelang peringatan 65 tahun Indonesia merdeka, sebaiknya kita merenung sampai sejauh mana perjalanan pendidikan bangsa ini. Semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani masihkah pantas kita dengung-dengungkan, sedangkan permasalahan pendidikan nasional datang silih berganti tanpa kita tahu kapan berakhir.Kurikulum baru yang selalu muncul dengan beberapa kontroversi, sertfikasi guru yang semrawut dengan banyak implikasinya, ujian nasional dengan segala keruwetannya, BOS, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, Penerimaan Peserta Didik (PPD) sudah cukup untuk menunjukkan bahwa permasalahan pendidikan nasional ibarat anak gunung yang dari waktu ke waktu semakin besar dan seakan tak terselesaikan.
Seminggu terakhir keprihatinan kita terpancing ketika membaca keluh kesah orang tua di beberapa surat kabar mengenai proses seleksi murid baru jalur khusus di beberapa sekolah negeri. Inikah wajah dunia pendidikan Indonesia? Ketika kewajiban menuntut ilmu terganjal oleh suatu proses yang justru dikendalikan oleh lembaga penyelenggara pendidikan yaitu sekolah.
Bergeser
Sekolah adalah lembaga yang dipercaya masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan nasional. Keberadaan sekolah bertujuan mewadahi keinginan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sudah sepantasnya perkembangan sekolah selalu melibatkan peran serta masyarakat.
Peranan sekolah dituntut tanggap dan fungsional terhadap kelangsungan dan perkembangan masyarakat sekitarnya. Sekolah menanggung kewajiban fungsional terhadap masyarakat, yaitu dengan penyiapan dan pembinaan masyarakat sehingga memiliki kemampuan dan pribadi yang diharapkan.
Sekolah adalah lembaga sosial, bukan sebuah institusi yang diharapkan memenuhi hukum dagang: untung dan rugi. Sekolah berkembang dari dan untuk masyarakat.
Tapi mencermati proses penerimaan peserta didik jalur khusus di beberapa sekolah negeri, penulis menyimpulkan bahwa fungsi sekolah telah bergeser. Sekolah bukan lagi sekedar lembaga sosial. Dan ada sebuah ironi: sekolah negeri yang didirikan pemerintah sebagai motor penggerak kemajuan pendidikan ternyata limbung untuk memenuhi kelangsungan hidupnya sendiri, sehingga membebankannya di pundak orang tua. Sampai-sampai ada kepala sekolah negeri ketika ditanya tentang tingginya biaya masuk sekolah beralasan bahwa sekolahnya belum punya laboratorium komputer dan untuk memperluas ruang kelas.
Bagaimana pemerintah bisa ngomong anggaran pendidikan sudah memadai. Apa pula maksudnya slogan sekolah gratis dari para calon kepala daerah ketika kampanye menjelang pilkada.
Jalur khusus PPD sebenarnya diperuntukkan bagi calon siswa sekitar sekolah yang kurang mampu; siswa yang berkontribusi besar dalam peningkatan mutu pendidikan; dan siswa berprestasi akademik, olah raga, kesenian, dan keterampilan baik pribadi maupun kelompok. Dan jalur ini tetap memperhatikan nilai UAN calon siswa.
Tapi pada prakteknya nilai nominal sumbangan orang tualah sebagai faktor penentu diterima atau tidaknya calon siswa lewat jalur khusus ini. Bisa disimpulkan bahwa tujuan program jalur khusus ini pun telah bergeser.
Sekolah Swasta
Sekolah swasta lahir karena keinginan dan aspirasi sebagian masyarakat tidak mampu terakomodasi oleh sekolah negeri. Hal ini merupakan refleksi dari dua segi hubungan sekolah dan masyarakat, yaitu: i)masyarakat adalah partner sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional; ii)sekolah adalah produser yang mewadahi keinginan-keinginan yang muncul di masyarakat.
Karena didirikan oleh perorangan atau sekelompok masyarakat (bukan pemerintah) sudah barang tentu sekolah swasta berusaha menjaga eksistensinya dengan memberikan sentuhan dan warna untuk menarik animo dari calon peserta didik tanpa menunggu-nunggu uluran bantuan dari pemerintah. Mulai dari tampilan luar sekolah (gedung dan fasilitas) hingga tenaga guru, pelayanan kepada siswa, dan kurikulum plus.
Dalam memenuhi keberlangsungan hidupnya sekolah swasta mengandalkan dari sumbangan orang tua lewat SPP. Itu pun tidak mutlak, karena ada beberapa sekolah yang didukung oleh sebuah lembaga swadaya yang bergerak dan menempatkan dirinya sebagai penyedia dana sehingga sekolah bagi beberapa siswa benar-benar gratis, bebas uang SPP.
Tapi, sudah cukup banyak sekolah swasta yang gulung tikar karena tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup di tengah-tengah persaingan dengan sekolah negeri/swasta lainnya. Bagaimana dapat meraih animo calon siswa jika hanya untuk promosi saja tidak mampu. Belum lagi biaya operasional yang dari waktu ke waktu terus membumbung.
Selayaknya pemerintah menyadari bahwa keberadaan sekolah swasta memang diperlukan sebagai kompetitor, penyeimbang, sekaligus kontrol bagi proses pendidikan di sekolah negeri. Sudah waktunya pemerintah memperhatikan kelangsungan sekolah-sekolah swasta dengan memberikan BOS (Bantuan Operional Sekolah) secara periodik dengan implementasi yang lebih fleksibel.
Pendirian sekolah baru (baik negeri atau swasta) lebih diatur guna menjaga kelangsungan hidup sekolah yang telah ada sebelumnya. Untuk apa sekolah baru terus bermunculan jika tidak bisa berperan secara fungsional. Karena disadari atau tidak bergesernya fungsi sekolah sebagai lembaga sosial bisa mengancam pendidikan nasional hingga akhirnya mempengaruhi sendi-sendi bangsa dan negara.

readmore »»
Seminggu terakhir keprihatinan kita terpancing ketika membaca keluh kesah orang tua di beberapa surat kabar mengenai proses seleksi murid baru jalur khusus di beberapa sekolah negeri. Inikah wajah dunia pendidikan Indonesia? Ketika kewajiban menuntut ilmu terganjal oleh suatu proses yang justru dikendalikan oleh lembaga penyelenggara pendidikan yaitu sekolah.
Bergeser
Sekolah adalah lembaga yang dipercaya masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan nasional. Keberadaan sekolah bertujuan mewadahi keinginan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sudah sepantasnya perkembangan sekolah selalu melibatkan peran serta masyarakat.
Peranan sekolah dituntut tanggap dan fungsional terhadap kelangsungan dan perkembangan masyarakat sekitarnya. Sekolah menanggung kewajiban fungsional terhadap masyarakat, yaitu dengan penyiapan dan pembinaan masyarakat sehingga memiliki kemampuan dan pribadi yang diharapkan.
Sekolah adalah lembaga sosial, bukan sebuah institusi yang diharapkan memenuhi hukum dagang: untung dan rugi. Sekolah berkembang dari dan untuk masyarakat.
Tapi mencermati proses penerimaan peserta didik jalur khusus di beberapa sekolah negeri, penulis menyimpulkan bahwa fungsi sekolah telah bergeser. Sekolah bukan lagi sekedar lembaga sosial. Dan ada sebuah ironi: sekolah negeri yang didirikan pemerintah sebagai motor penggerak kemajuan pendidikan ternyata limbung untuk memenuhi kelangsungan hidupnya sendiri, sehingga membebankannya di pundak orang tua. Sampai-sampai ada kepala sekolah negeri ketika ditanya tentang tingginya biaya masuk sekolah beralasan bahwa sekolahnya belum punya laboratorium komputer dan untuk memperluas ruang kelas.
Bagaimana pemerintah bisa ngomong anggaran pendidikan sudah memadai. Apa pula maksudnya slogan sekolah gratis dari para calon kepala daerah ketika kampanye menjelang pilkada.
Jalur khusus PPD sebenarnya diperuntukkan bagi calon siswa sekitar sekolah yang kurang mampu; siswa yang berkontribusi besar dalam peningkatan mutu pendidikan; dan siswa berprestasi akademik, olah raga, kesenian, dan keterampilan baik pribadi maupun kelompok. Dan jalur ini tetap memperhatikan nilai UAN calon siswa.
Tapi pada prakteknya nilai nominal sumbangan orang tualah sebagai faktor penentu diterima atau tidaknya calon siswa lewat jalur khusus ini. Bisa disimpulkan bahwa tujuan program jalur khusus ini pun telah bergeser.
Sekolah Swasta
Sekolah swasta lahir karena keinginan dan aspirasi sebagian masyarakat tidak mampu terakomodasi oleh sekolah negeri. Hal ini merupakan refleksi dari dua segi hubungan sekolah dan masyarakat, yaitu: i)masyarakat adalah partner sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional; ii)sekolah adalah produser yang mewadahi keinginan-keinginan yang muncul di masyarakat.
Karena didirikan oleh perorangan atau sekelompok masyarakat (bukan pemerintah) sudah barang tentu sekolah swasta berusaha menjaga eksistensinya dengan memberikan sentuhan dan warna untuk menarik animo dari calon peserta didik tanpa menunggu-nunggu uluran bantuan dari pemerintah. Mulai dari tampilan luar sekolah (gedung dan fasilitas) hingga tenaga guru, pelayanan kepada siswa, dan kurikulum plus.
Dalam memenuhi keberlangsungan hidupnya sekolah swasta mengandalkan dari sumbangan orang tua lewat SPP. Itu pun tidak mutlak, karena ada beberapa sekolah yang didukung oleh sebuah lembaga swadaya yang bergerak dan menempatkan dirinya sebagai penyedia dana sehingga sekolah bagi beberapa siswa benar-benar gratis, bebas uang SPP.
Tapi, sudah cukup banyak sekolah swasta yang gulung tikar karena tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup di tengah-tengah persaingan dengan sekolah negeri/swasta lainnya. Bagaimana dapat meraih animo calon siswa jika hanya untuk promosi saja tidak mampu. Belum lagi biaya operasional yang dari waktu ke waktu terus membumbung.
Selayaknya pemerintah menyadari bahwa keberadaan sekolah swasta memang diperlukan sebagai kompetitor, penyeimbang, sekaligus kontrol bagi proses pendidikan di sekolah negeri. Sudah waktunya pemerintah memperhatikan kelangsungan sekolah-sekolah swasta dengan memberikan BOS (Bantuan Operional Sekolah) secara periodik dengan implementasi yang lebih fleksibel.
Pendirian sekolah baru (baik negeri atau swasta) lebih diatur guna menjaga kelangsungan hidup sekolah yang telah ada sebelumnya. Untuk apa sekolah baru terus bermunculan jika tidak bisa berperan secara fungsional. Karena disadari atau tidak bergesernya fungsi sekolah sebagai lembaga sosial bisa mengancam pendidikan nasional hingga akhirnya mempengaruhi sendi-sendi bangsa dan negara.

17 Februari 2010
Tak Ada Murid yang Sama
Selama lima belas tahun menjadi guru, baru sekali penulis mengajar tiga pasang anak kembar sekaligus dalam waktu setahun. Setiap pasangnya adalah sekelas, sehingga mudah dibandingkan secara langsung. Dua pasang di antaranya sangat mirip secara fisik. Sepasang lagi berlainan jenis kelamin.
Pasangan pertama, kita sebut saja A dan B, berlainan sifat satu sama lain. A termasuk murid perempuan yang centil, selalu ceria, dan secara umum sedikit lebih pintar dibanding kembarannya. Tetapi, dari sisi emosinya, si A lebih mudah meledak-ledak. Sedangkan B cenderung tenang, murah senyum, lebih sabar, dan menonjol pada bidang studi matematika.
Pada pasangan kedua (kita sebut saja C dan D), C adalah siswi pendiam, tenang, dan kelihatan ngemong terhadap kembarannya. D lebih kelihatan sebagai siswi yang lebih pandai mendapatkan teman, menyukai kebersamaan, tetapi sensitif. Dari segi kognitif pun mereka berbeda.
Dari dua contoh di atas kita menyadari, bahwa Tuhan meciptakan manusia dengan ciri-ciri khususnya. Tak akan pernah ada dua makhluk yang tercipta mutlak sama. Pasti masing-masing memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Pada anak kembar sekali pun.
Sebagai guru seyogyanya menyadari bahwa murid-murid kita adalah pribadi yang unik. Memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Tidak mau disamakan dengan yang lain. Sehingga perlakuan dan individual approach-nya pun harus berbeda-beda.
Ada tiga faktor penentu keunikan pribadi siswa, yaitu: keturunan (heredity); lingkungan (environment), dan diri (self). Keturunan menjadi penentu pada pembentukan sifat dan potensi yang relatif sukar berubah dengan pengalaman pembelajaran. Faktor keturunan ini berperan bagi pertumbuhan fisik, mental maupun sifat kepribadian yang diinginkan. Lingkungan meliputi keadaan sosial sekitar, kebiasaan-kebiasaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi berperan membentuk pribadi anak dari luar. Termasuk juga bahasa yang berfungsi untuk menyerap kebudayaan masyarakat di mana anak tinggal. Sedangkan, faktor diri yaitu kehidupan kejiwaan anak, di dalamnya meliputi: perasaan, usaha, pikiran, pandangan, minat, penilaian, harapan, keyakinan yang berpengaruh pada tujuan atas tindakan yang dilakukan.
Implementasi di Sekolah
Sekolah bisa menyelenggarakan aktivitas belajar karena ada kurikulum yang sudah dibakukan, tetapi masih banyak pihak yang salah mengurai dan menjabarkan (misinterpreted) fungsi kurikulum. Kurikulum selalu hanya dipandang sebagai alat untuk pengembangan kemampuan intelektual anak (proses kognitif): kemampuan berpikir untuk menyelesaikan masalah. Alhasil, dalam praktek guru hanya melihat produk atau hasil dari proses belajar mengajar. Seringkali siswa yang bermasalah dalam belajar tidak tertangani dengan semestinya. Biasanya, cap anak bodoh, anak lemot, anak malas mudah disematkan pada anak-anak yang mengalami masalah prestasi belajar.
Di sekolah (termasuk juga SLB) bisa kita temukan berbagai macam karakter, potensi, emosi, minat, bakat, perasaan, perhatian dan sebagainya yang terdapat pada peserta didik. Sayangnya, itu semua tidak terakomodasi di dalam kurikulum kita. Karena kurikulum masih dianggap sebagai timbangan beras, sedangkan indikator dan kompetensi dasar dianggap sebagai anak timbangan (bandul). Sehingga semua yang dicapai oleh anak harus sesuai dengan standar yang ditentukan.
Belum lagi, banyak potensi dan usaha anak yang tidak terasah oleh kurikulum di sekolah. Karena sekolah masih menganggap anak didik sebagai kumpulan obyek yang harus mendapatkan perlakuan sama. Kapan anak bisa mengaktualisasikan dirinya?
Kurikulum Humanistik
Kita harus menyadari bahwa fungsi humanistis dari kurikulum: untuk mengaktualisasikan diri. Kurikulum yang mengutamakan perkembangan anak sebagai individu yang unik dalam segala aspek kepribadian. Dengan model kurikulum humanistik ini tugas pendidikan yang utama adalah mengembangkan anak sebagai individu yang unik sekaligus sebagai makhluk sosial.
Dengan kurikulum yang humanistik tugas sekolah selain meberikan materi ajar, adalah memberi kebebasan, kemandirian, hak untuk mengembangkan diri, serta mengembangkan fisik dan emosionalnya. Model pembelajaran yang benar-benar child-centered yang mengutamakan ekspresi diri secara kreatif, individualitas, aktivitas pertumbuhan dari dalam diri siswa sendiri, bebas oleh paksaan dari luar.
Semoga pemerintah cepat memahami bahwa tidak akan pernah ada siswa yang sama. Sehingga kurikulum betul-betul memberikan wadah kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi, minat, keyakinan dan usaha siswa secara individualitas. Amin.

readmore »»
Pasangan pertama, kita sebut saja A dan B, berlainan sifat satu sama lain. A termasuk murid perempuan yang centil, selalu ceria, dan secara umum sedikit lebih pintar dibanding kembarannya. Tetapi, dari sisi emosinya, si A lebih mudah meledak-ledak. Sedangkan B cenderung tenang, murah senyum, lebih sabar, dan menonjol pada bidang studi matematika.
Pada pasangan kedua (kita sebut saja C dan D), C adalah siswi pendiam, tenang, dan kelihatan ngemong terhadap kembarannya. D lebih kelihatan sebagai siswi yang lebih pandai mendapatkan teman, menyukai kebersamaan, tetapi sensitif. Dari segi kognitif pun mereka berbeda.
Dari dua contoh di atas kita menyadari, bahwa Tuhan meciptakan manusia dengan ciri-ciri khususnya. Tak akan pernah ada dua makhluk yang tercipta mutlak sama. Pasti masing-masing memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Pada anak kembar sekali pun.
Sebagai guru seyogyanya menyadari bahwa murid-murid kita adalah pribadi yang unik. Memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Tidak mau disamakan dengan yang lain. Sehingga perlakuan dan individual approach-nya pun harus berbeda-beda.
Ada tiga faktor penentu keunikan pribadi siswa, yaitu: keturunan (heredity); lingkungan (environment), dan diri (self). Keturunan menjadi penentu pada pembentukan sifat dan potensi yang relatif sukar berubah dengan pengalaman pembelajaran. Faktor keturunan ini berperan bagi pertumbuhan fisik, mental maupun sifat kepribadian yang diinginkan. Lingkungan meliputi keadaan sosial sekitar, kebiasaan-kebiasaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi berperan membentuk pribadi anak dari luar. Termasuk juga bahasa yang berfungsi untuk menyerap kebudayaan masyarakat di mana anak tinggal. Sedangkan, faktor diri yaitu kehidupan kejiwaan anak, di dalamnya meliputi: perasaan, usaha, pikiran, pandangan, minat, penilaian, harapan, keyakinan yang berpengaruh pada tujuan atas tindakan yang dilakukan.
Implementasi di Sekolah
Sekolah bisa menyelenggarakan aktivitas belajar karena ada kurikulum yang sudah dibakukan, tetapi masih banyak pihak yang salah mengurai dan menjabarkan (misinterpreted) fungsi kurikulum. Kurikulum selalu hanya dipandang sebagai alat untuk pengembangan kemampuan intelektual anak (proses kognitif): kemampuan berpikir untuk menyelesaikan masalah. Alhasil, dalam praktek guru hanya melihat produk atau hasil dari proses belajar mengajar. Seringkali siswa yang bermasalah dalam belajar tidak tertangani dengan semestinya. Biasanya, cap anak bodoh, anak lemot, anak malas mudah disematkan pada anak-anak yang mengalami masalah prestasi belajar.
Di sekolah (termasuk juga SLB) bisa kita temukan berbagai macam karakter, potensi, emosi, minat, bakat, perasaan, perhatian dan sebagainya yang terdapat pada peserta didik. Sayangnya, itu semua tidak terakomodasi di dalam kurikulum kita. Karena kurikulum masih dianggap sebagai timbangan beras, sedangkan indikator dan kompetensi dasar dianggap sebagai anak timbangan (bandul). Sehingga semua yang dicapai oleh anak harus sesuai dengan standar yang ditentukan.
Belum lagi, banyak potensi dan usaha anak yang tidak terasah oleh kurikulum di sekolah. Karena sekolah masih menganggap anak didik sebagai kumpulan obyek yang harus mendapatkan perlakuan sama. Kapan anak bisa mengaktualisasikan dirinya?
Kurikulum Humanistik
Kita harus menyadari bahwa fungsi humanistis dari kurikulum: untuk mengaktualisasikan diri. Kurikulum yang mengutamakan perkembangan anak sebagai individu yang unik dalam segala aspek kepribadian. Dengan model kurikulum humanistik ini tugas pendidikan yang utama adalah mengembangkan anak sebagai individu yang unik sekaligus sebagai makhluk sosial.
Dengan kurikulum yang humanistik tugas sekolah selain meberikan materi ajar, adalah memberi kebebasan, kemandirian, hak untuk mengembangkan diri, serta mengembangkan fisik dan emosionalnya. Model pembelajaran yang benar-benar child-centered yang mengutamakan ekspresi diri secara kreatif, individualitas, aktivitas pertumbuhan dari dalam diri siswa sendiri, bebas oleh paksaan dari luar.
Semoga pemerintah cepat memahami bahwa tidak akan pernah ada siswa yang sama. Sehingga kurikulum betul-betul memberikan wadah kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi, minat, keyakinan dan usaha siswa secara individualitas. Amin.

22 Desember 2009
MENGAJAR, PEMBELAJARAN DAN MATEMATIKA
Pearson (1989) mengatakan bahwa tujuan mengajar adalah menyempurnakan pembelajaran. Dengan menggunakan sebuah studi pengajaran matematika, kita akan memahami cara bagaimana pengajaran matematika menyempunakan pembelajaran matematika. Studi seperti itu memberikan pengertian yang mendalam bagaimana pengajaran matematika berkembang atau dapat meningkatkan hasil pembelajaran matematika pada siswa. Tentu saja pengajaran tidak berkembang secara abstrak, tetapi melalui pertumbuhan pengetahuan dan pengalaman guru matematika dalam mengajar. Secara perspektif dan praktis pendidik bekerja dengan guru untuk membantu perkembangan dan memfasilitasi guru dalam pembelajaran matematika. Kegiatan penelitian pada tingkatan ini adalah mengusahakan pembelajaran pada diri sendiri. Kemudian guru, pendidik, dan peneliti mengintegrasian kegiatan penelitian dan praktek studi pembelajaran yang mendasar.
Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahaan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika.
Kemajuan suatu bangsa tercermin pada keberlangsungan pendidikan bangsa itu. Bangsa dengan tingkat pendidikan yang memadai diyakini mampu menciptakan kehidupan yang beradap. Artinya peningkatan mutu pendidikan dianggap sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Oleh karena itu, pendidikan perlu mendapat perhatian yang besar agar kita dapat mengejar ketertinggalan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi yang mutlak kita perlukan untuk mengisi pembangunan.
Guru memegang peran strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dari dimensi tersebut, peran guru sulit digantikan oleh yang lain. Dipandang dari dimensi tehnologi peran guru tetap dominan sekalipun tehnologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat. Hal ini disebabkan ada dimensi-dimensi proses pendidikan, atau lebih khusus lagi proses pembelajaran, yang diperankan oleh guru yang tidak dapat digantikan oleh tehnologi.
Peningkatan kualitas pendidikan dasar harus dilaksanakan secara terpadu, sistematis, bertahap dan berkesinambungan. Hal ini dilaksanakan terhadap:
1. Kesiswaan, terutama yang menyangkut aspek terjadinya drop out dan mengulang kelas, pembinaan pertumbuhan fisik siswa dan pembinaan mutu proses dan hasil belajarnya.
2. Ketenangan, baik guru maupun non guru.
3. Kurikulum serta sarana dan prasarana.
4. Penyediaan dana dan pengelolaannya.
5. Organisasi dan majemen sekolah.
6. Proses belajar mengajar.
7. Kerjasama sekolah dan masyarakat melelui komite sekolah.
Seringkali dalam pembelajaran matematika di kelas guru mendominasi kegiatan tersebut. Poros pembelajaran mutlak ada pada guru, sehingga proses belajar mengajar berjalan satu arah. Guru kurang mampu mengakomodasi permasalahan siswa-siswanya. Hal ini karena dengan jumlah jam mengajar yang terbatas, guru dituntut melaksanakan pembelajaran yang selalu menguras tenaga dan pikiran dengan model pembelajaran konvensional.
Dengan model pembelajaran konvensional siswa seakan hanya sebagai obyek pembelajaran. Setiap individu siswa pasti mempunyai tingkat pemahaman materi yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki tingkat permasalahan yang berbeda-beda. Artinya dengan model pembelajaran yang mengesampingkan peran siswa akan memberikan dampak kurang baik pada prestasi belajarnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika.

readmore »»
Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahaan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika.
Kemajuan suatu bangsa tercermin pada keberlangsungan pendidikan bangsa itu. Bangsa dengan tingkat pendidikan yang memadai diyakini mampu menciptakan kehidupan yang beradap. Artinya peningkatan mutu pendidikan dianggap sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Oleh karena itu, pendidikan perlu mendapat perhatian yang besar agar kita dapat mengejar ketertinggalan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi yang mutlak kita perlukan untuk mengisi pembangunan.
Guru memegang peran strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dari dimensi tersebut, peran guru sulit digantikan oleh yang lain. Dipandang dari dimensi tehnologi peran guru tetap dominan sekalipun tehnologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat. Hal ini disebabkan ada dimensi-dimensi proses pendidikan, atau lebih khusus lagi proses pembelajaran, yang diperankan oleh guru yang tidak dapat digantikan oleh tehnologi.
Peningkatan kualitas pendidikan dasar harus dilaksanakan secara terpadu, sistematis, bertahap dan berkesinambungan. Hal ini dilaksanakan terhadap:
1. Kesiswaan, terutama yang menyangkut aspek terjadinya drop out dan mengulang kelas, pembinaan pertumbuhan fisik siswa dan pembinaan mutu proses dan hasil belajarnya.
2. Ketenangan, baik guru maupun non guru.
3. Kurikulum serta sarana dan prasarana.
4. Penyediaan dana dan pengelolaannya.
5. Organisasi dan majemen sekolah.
6. Proses belajar mengajar.
7. Kerjasama sekolah dan masyarakat melelui komite sekolah.
Seringkali dalam pembelajaran matematika di kelas guru mendominasi kegiatan tersebut. Poros pembelajaran mutlak ada pada guru, sehingga proses belajar mengajar berjalan satu arah. Guru kurang mampu mengakomodasi permasalahan siswa-siswanya. Hal ini karena dengan jumlah jam mengajar yang terbatas, guru dituntut melaksanakan pembelajaran yang selalu menguras tenaga dan pikiran dengan model pembelajaran konvensional.
Dengan model pembelajaran konvensional siswa seakan hanya sebagai obyek pembelajaran. Setiap individu siswa pasti mempunyai tingkat pemahaman materi yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki tingkat permasalahan yang berbeda-beda. Artinya dengan model pembelajaran yang mengesampingkan peran siswa akan memberikan dampak kurang baik pada prestasi belajarnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika.

Indahnya Punya Pemimpin Cerdas Spiritual
Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Baik pemimpin negara, daerah, kantor, atau bahkan pemimpin rumah tangga. Ada 4 kecerdasan yang diperlukan, yaitu kecerdasan fisik, intelegensi, mental dan spritual.
Kecerdasan spiritual memberi kita kemampuan membedakan kecerdasan spiritual memberi kita rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku, dibarengi dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Kita menggunakan kecerdasan spiritual untuk bergulat dengan ihwal baik dan jahat, serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum terwujud untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri kita dari kerendahan. Tidak semua orang yang pengetahuan agamanya luas atau tekun beribadah bisa menjadi pemimpin yang berkecerdasan spiritual.
Menurut Joe Loper ciri-ciri orang berkecerdasan spiritual tinggi adalah sebagai berikut:
1. Fleksibel (luwes), baik dalam sikap maupun cara berpikir
2. Kemampuan refleksi tinggi
3. Kesadaran terhadap diri dan lingkungan tinggi
4. Kemampuan berkontemplasi tinggi
5. Berfikir secara holistik (mengaitkan satu dengan lain hal)
6. Berani menghadapi dan memanfaatkan penderitaan (pasrah, ikhlas)
7. Berani melawan arus atau tradisi
8. Memelihara alam semesta.
Sedangkan berdasarkan teori Zohar dan Marshall (2001) dan Sinetar (2001) ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai kesadaran diri. Adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari antuasi yang datang dan menanggapinya.
2. Mempunyai visi. Ada pemahaman tentang tujuan hidupnya, mempunyai kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
3. Fleksibel. Mampu bersikap fleksibel, menyesuaikan diri secara spontan dan aktif untuk mencapai hasil yang baik, mempunyai pandangan yang pragmatis (sesuai kegunaan) dan efisien tentang realitas.
4. Berpandangan holistik. Melihat bahwa diri sendiri dan orang lain saling terkait dan bisa melihat keterkaitan antara berbagai hal. Dapat memandang kehidupan yang lebih besar sehingga mampu menghadapi dan memanfaatkan serta melampaui, kesengsaraan dan rasa sehat serta memandangnya sebagai suatu visi dan mencari makna dibaliknya.
5. Melakukan perubahan. Terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi dan status quo, menjadi orang yang bebas merdeka.
6. Sumber inspirasi. Mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, mempunyai gagasan-gagasan yang segar dan aneh.
7. Refleksi diri, mempunyai kecenderungan apakah yang mendasar dan pokok.
Aspek-aspek dalam kecerdasan spiritual
Sinetar (2001) menuliskan beberapa aspek dalam kecerdasan spiritual, yaitu :
1. Kemampuan seni untuk memilih, kemampuan untuk memilih dan menata hingga ke bagian-bagian terkecil ekspresi hidupnya berdasarkan suatu visi batin yang tetap dan kuat yang memungkinkan hidup mengorganisasikan bakat.
2. Kemampuan seni untuk melindungi diri. Individu mempelajari keadaan dirinya, baik bakat maupun keterbatasannya untuk menciptakan dan menata pilihan terbaiknya.
3. Kedewasaaan yang diperlihatkan. Kedewasaan berarti kita tidak menyembunyikan kekuatan-kekuatan kita dan ketakutan dan sebagai konsekuensinya memilih untuk menghindari kemampuan terbaik kita.
4. Kemampuan mengikuti cinta. Memilih antara harapan-harapan orang lain di mata kita penting atau kita cintai.
5. Disiplin-disiplin pengorbanan diri. Mau berkorban untuk orang lain, pemaaf tidak prasangka mudah untuk memberi kepada orang lain dan selalu ingin membuat orang lain bahagia.
Cara Meningkatkan Kecerdasan Spiritual yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari :
1. Seringlah melakukan perenungan (kontemplasi) mengenai diri sendiri, kaitan hubungan dengan orang lain, serta peristiwa yang dihadapi. Hal ini untuk memahami makna atau nilai dari setiap kejadian dalam kehidupan.
2. Kenali tujuan hidup, tanggung jawab, dan kewajiban dalam hidup kita. Jika segalanya mudah, lancar dan membahagiakan, berarti destiny (tujuan hidup) cocok. Sebaliknya bila banyak rintangan dan kegagalan, berarti tidak cocok.
3. Tumbuhkan kepedulian, kasih sayang, dan kedamaian.
4. Pekakan diri terhadap bisikan, inspirasi dan intuisi. Inilah proses channeling dengan Tuhan. Datangnya sering simbolik, terkadang linier.
5. Ambil hikmah dari segala perubahan di dalam kehidupan (termasuk penderitaan) sebagai jalan untuk peningkatan mutu kehidupan kita.
6. Kembangkan tim kerja dan kemitraan, yang saling asah-asih-asuh.
7. Belajar melayani dan rendah hati.

readmore »»
Kecerdasan spiritual memberi kita kemampuan membedakan kecerdasan spiritual memberi kita rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku, dibarengi dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Kita menggunakan kecerdasan spiritual untuk bergulat dengan ihwal baik dan jahat, serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum terwujud untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri kita dari kerendahan. Tidak semua orang yang pengetahuan agamanya luas atau tekun beribadah bisa menjadi pemimpin yang berkecerdasan spiritual.
Menurut Joe Loper ciri-ciri orang berkecerdasan spiritual tinggi adalah sebagai berikut:
1. Fleksibel (luwes), baik dalam sikap maupun cara berpikir
2. Kemampuan refleksi tinggi
3. Kesadaran terhadap diri dan lingkungan tinggi
4. Kemampuan berkontemplasi tinggi
5. Berfikir secara holistik (mengaitkan satu dengan lain hal)
6. Berani menghadapi dan memanfaatkan penderitaan (pasrah, ikhlas)
7. Berani melawan arus atau tradisi
8. Memelihara alam semesta.
Sedangkan berdasarkan teori Zohar dan Marshall (2001) dan Sinetar (2001) ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai kesadaran diri. Adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari antuasi yang datang dan menanggapinya.
2. Mempunyai visi. Ada pemahaman tentang tujuan hidupnya, mempunyai kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
3. Fleksibel. Mampu bersikap fleksibel, menyesuaikan diri secara spontan dan aktif untuk mencapai hasil yang baik, mempunyai pandangan yang pragmatis (sesuai kegunaan) dan efisien tentang realitas.
4. Berpandangan holistik. Melihat bahwa diri sendiri dan orang lain saling terkait dan bisa melihat keterkaitan antara berbagai hal. Dapat memandang kehidupan yang lebih besar sehingga mampu menghadapi dan memanfaatkan serta melampaui, kesengsaraan dan rasa sehat serta memandangnya sebagai suatu visi dan mencari makna dibaliknya.
5. Melakukan perubahan. Terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi dan status quo, menjadi orang yang bebas merdeka.
6. Sumber inspirasi. Mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, mempunyai gagasan-gagasan yang segar dan aneh.
7. Refleksi diri, mempunyai kecenderungan apakah yang mendasar dan pokok.
Aspek-aspek dalam kecerdasan spiritual
Sinetar (2001) menuliskan beberapa aspek dalam kecerdasan spiritual, yaitu :
1. Kemampuan seni untuk memilih, kemampuan untuk memilih dan menata hingga ke bagian-bagian terkecil ekspresi hidupnya berdasarkan suatu visi batin yang tetap dan kuat yang memungkinkan hidup mengorganisasikan bakat.
2. Kemampuan seni untuk melindungi diri. Individu mempelajari keadaan dirinya, baik bakat maupun keterbatasannya untuk menciptakan dan menata pilihan terbaiknya.
3. Kedewasaaan yang diperlihatkan. Kedewasaan berarti kita tidak menyembunyikan kekuatan-kekuatan kita dan ketakutan dan sebagai konsekuensinya memilih untuk menghindari kemampuan terbaik kita.
4. Kemampuan mengikuti cinta. Memilih antara harapan-harapan orang lain di mata kita penting atau kita cintai.
5. Disiplin-disiplin pengorbanan diri. Mau berkorban untuk orang lain, pemaaf tidak prasangka mudah untuk memberi kepada orang lain dan selalu ingin membuat orang lain bahagia.
Cara Meningkatkan Kecerdasan Spiritual yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari :
1. Seringlah melakukan perenungan (kontemplasi) mengenai diri sendiri, kaitan hubungan dengan orang lain, serta peristiwa yang dihadapi. Hal ini untuk memahami makna atau nilai dari setiap kejadian dalam kehidupan.
2. Kenali tujuan hidup, tanggung jawab, dan kewajiban dalam hidup kita. Jika segalanya mudah, lancar dan membahagiakan, berarti destiny (tujuan hidup) cocok. Sebaliknya bila banyak rintangan dan kegagalan, berarti tidak cocok.
3. Tumbuhkan kepedulian, kasih sayang, dan kedamaian.
4. Pekakan diri terhadap bisikan, inspirasi dan intuisi. Inilah proses channeling dengan Tuhan. Datangnya sering simbolik, terkadang linier.
5. Ambil hikmah dari segala perubahan di dalam kehidupan (termasuk penderitaan) sebagai jalan untuk peningkatan mutu kehidupan kita.
6. Kembangkan tim kerja dan kemitraan, yang saling asah-asih-asuh.
7. Belajar melayani dan rendah hati.

Label:
selayang pandang
20 Oktober 2009
Jangan Takut Tertawa
Ternyata tertawa bisa sebagai kebutuhan hidup. Banyak terapi penyakit dilakukan dengan membiasakan tertawa. Tentunya tertawa yang teratur, artinya kita tertawa karena memang ada yang perlu dan harus ditertawakan. Kalau nggak bisa bahaya he...he...he...
Orang yang takut/malu tertawa dan enggan membuat orang lain tertawa, bisa-bisa ia menderita penyakit GELOTOPHOBIA. Hah...!!! GAWAT!!!
Tertawa juga bisa sebagai cara mengukur kecerdasan seseorang. Semakin cerdas seseorang semakin pandai ia merespon cerita-cerita humor.
Ada empat golongan orang berkaitan dengan selera humor.
• Orang dengan selera humor minim adalah orang yang tak sekalipun tertawa ketika ada rangsangan humor.
• Orang berselera humor sedang sangat bergantung dengan suasana hati. Ia tertawa hanya sebatas "kadang-kadang".
• Orang berselera humor tinggi mampu membuat joke-joke segar dan memberikan respon sangat memuaskan terhadap rangsangan humor. Ia mampu membunuh kegalauan hatinya hanya dengan tertawa dan melucu
• Orang berselera humor kebablasan adalah orang yang kita kenal sebagai orang yang "cengengesan" dan "cengar-cengir" nggak bisa diajak serius.
Tertawa Bisa Sebagai Obat yang Terbaik
Adalah domapin, bahan kimia dalam otak yang bertanggungawab memicu otak untuk memulai tahapan mencerna suatu humor. Dopamin ini memungkinkan kita merasa nyaman saat kita tertawa. Beberapa studi mendemontsrasikan perbaikan kondisi kesehatan pasien yang kronis saat distimulasi dengan hal-hal lucu. Maka pepatah yang mengatakan bahwa tertawa adalah obat terbaik sungguhan terbukti.
Orang yang takut/malu tertawa dan enggan membuat orang lain tertawa, bisa-bisa ia menderita penyakit GELOTOPHOBIA. Hah...!!! GAWAT!!!
Tertawa juga bisa sebagai cara mengukur kecerdasan seseorang. Semakin cerdas seseorang semakin pandai ia merespon cerita-cerita humor.
Ada empat golongan orang berkaitan dengan selera humor.
• Orang dengan selera humor minim adalah orang yang tak sekalipun tertawa ketika ada rangsangan humor.
• Orang berselera humor sedang sangat bergantung dengan suasana hati. Ia tertawa hanya sebatas "kadang-kadang".
• Orang berselera humor tinggi mampu membuat joke-joke segar dan memberikan respon sangat memuaskan terhadap rangsangan humor. Ia mampu membunuh kegalauan hatinya hanya dengan tertawa dan melucu
• Orang berselera humor kebablasan adalah orang yang kita kenal sebagai orang yang "cengengesan" dan "cengar-cengir" nggak bisa diajak serius.
Tertawa Bisa Sebagai Obat yang Terbaik
Adalah domapin, bahan kimia dalam otak yang bertanggungawab memicu otak untuk memulai tahapan mencerna suatu humor. Dopamin ini memungkinkan kita merasa nyaman saat kita tertawa. Beberapa studi mendemontsrasikan perbaikan kondisi kesehatan pasien yang kronis saat distimulasi dengan hal-hal lucu. Maka pepatah yang mengatakan bahwa tertawa adalah obat terbaik sungguhan terbukti.

Label:
curahan hatiku
27 Agustus 2009
Mengapa Matematika Jadi Momok
Matematika sebagai momok menakutkan bagi sebagian besar siswa tentu sudah kita amini sejak lama. Sering kita dengar cerita orang tua tentang betapa cemasnya mereka akan nilai matematika anak di sekolah. Belum lagi, begitu stresnya orang tua menjelang UAN ataupun UASBN. Sehingga terpaksa ada anggaran tambahan untuk guru les/privat matematika, demi jaminan nilai aman pada UAN atau UASBN.
Jika kita mau mencermati latar belakang masalahnya, kita tidak berhak menyalahkan begitu saja kecemasan para orang tua siswa. Sebenarnya, ada yang salah dalam pengajaran matematika di sekolah. Baik cara guru memperlakukan matematika, kurikulum sebagai learning screen, ketersediaan buku dan alat peraga, serta tujuan pengajaran matematika.
Kita mulai pada hakikat matematika. Menurut Herman Hudoyo dalam buku Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di depan Kelas: hakikat matematika adalah berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang tersusun menurut urutan yang logis. Tepatlah, jika semua komponen pendidikan memandang matematika sebuah sistem yang memuat unsur-unsur saling berkaitan.
Guru Sering Salah Memperlakukan Matematika
Guru sebagai komponen utama pendidikan sering kali salah memperlakukan matematika. Banyak guru yang menganggap matematika hanyalah ilmu berhitung yang memuat angka-angka yang harus segera dipecahkan dengan rumus. Banyak pula guru yang seakan berlomba menciptakan rumus cepat guna menolong siswanya belajar. Belum lagi, kecenderungan guru yang hanya memberi rumus/cara pemecahan soal tanpa penanaman konsep secara matang terlebih dahulu.
Sering kali guru rajin memberikan PR pada siswa, tapi lupa memegang tanggung jawab untuk following up, feedback, maupun rewarding bagi anak didiknya. Ini wajib tidak diremehkan, karena ide-ide, struktur-struktur dan urutan logis sebagai hakikat matematika tercakup di sana. Bayangkan, jika seringkali PR anak menumpuk, sesering pula dengan keengganan guru untuk sekedar membahas, menanyakan kendala pada siswa atau memberikan pujian pada siswa yang telah memahami materi.
Jangan kaget, jika suatu saat kita naik angkot atau bus dikeluh-kesahi oleh orang tua murid akan anaknya yang waktunya habis untuk mengerjakan PR, tapi sampai di sekolah disinggung oleh guru sedikit pun tidak. Ini realita, banyak terjadi di sekolah. Intinya guru hanya mengejar tuntas kewajiban: rumus sudah diberikan, siswa diajak mengerjakan latihan di sekolah, dan siswa pulang membawa PR.
Batasan Maksimal Penjabaran Materi dalam Kurikulum Tidak Ada
Pernahkah anda mendengar keluhan anak anda tentang tugas atau PR dari sekolah. Begitu sulitnya PR itu hingga membuat anak anda menangis karena saking takutnya dengan bayang-bayang sangsi guru dalam pikirannya. Misalnya, anak anda baru kelas 4 SD tetapi mendapat PR tentang sudut terkecil yang dibentuk oleh jarum jam pada pukul empat lebih dua puluh menit. Untuk anak kelas 4 SD pantas ia menangis, karena ini materi di awal SMP. Anak kelas 4 SD harusnya baru mengenal apakah itu sudut lancip, tumpul dan siku-siku.
Satu contoh lagi, anak kelas 7 SMP mendapat PR tentang kesebangunan segitiga. Meski materi itu sengaja dikait-kaitkan dengan materi Perbandingan Segmen Garis, tetapi secara konsep tidak nyantol. Karena segmen garis adalah hanya salah satu unsur segitiga dan materi kesebangunan segitiga baru diterima siswa di kelas IX.
Dari dua contoh di atas, jelas ada yang tidak pas pada kurikulum kita. Batasan maksimal penjabaran materi tidak ada. Sehingga, guru sembarang menghubung-hubungkan materi yang harus sudah dikuasai siswa dengan materi yang seharusnya masih melewati beberapa materi prasyarat lainnya. Imbasnya, materi-materi yang telah diterima siswa tidak menemui tata urutan logis atau lebih gampangnya saling tumpang tindih tidak karuan. Siswa makin sulit membongkar kembali.
Buku sebagai Pendukung Pembelajaran Kurang Memadai
Jika jaman dulu banyak kita temukan siswa yang tidak mempunyai buku karena sedikit buku yang beredar. Tetapi sekarang kenyataan hampir berbalik: buku yang beredar banyak sekali, tetapi yang sampai ke tangan siswa sedikit sekali. Hal ini karena makin mahalnya harga buku akibat semakin mahalnya harga kertas dan biaya cetak.
Pemerintah pun tanggap. Ada beberapa daerah yang mencetak sendiri buku ajar untuk sekolah dari SD sampai SMA. Dengan mencetak sendiri, pemerintah daerah bisa mendistribusikan sendiri buku ajar hingga sekolah-sekolah pelosok sekalipun secara gratis.
Ini harus kita acungi jempol. Tapi bukan berarti masalah tak ada. Mulai dari mutu tinta cetak, kesalahan tata bahasa, pengeditan yang tidak maksimal dan yang fatal adalah ketidak-sesuaian dengan kurikulum masih sering ditemui. Kita harus maklum, itulah kemampuan maksimal pemerintah daerah.
Sedangkan, buku-buku yang beredar di pasar yang dikuasai oleh tiga penerbit raksasa harganya semakin melangit. Dengan beban hidup masyarakat yang makin berat, tentunya daya beli sebagian besar orang tua murid tak sanggup menjangkaunya. Sehingga ketersediaan buku sebagai penunjang pembelajaran matematika perlu kita cermati sebagai masalah.
Tujuan Pengajaran Matematika Masih Menggantung
Pada awal-awal tahun ajaran, pengajaran matematika biasanya lebih santai. Tetapi begitu masuk semester II makin seriuslah guru mengajar (kalau tidak mau dikatakan ngongso). Mulailah dibuat jadwal tambahan di sore hari. Diberilah les privat bagi siswa yang butuh perhatian khusus. Dipanggillah orang tua siswa yang kurang prestasinya. Kepala sekolah pun mulai rajin rapat dengan guru-gurunya. Dan guru-guru pun makin rajin nyereweti muridnya.
Hal ini bisa kita pandang sebagai kemajuan. Tapi di sisi lain kita boleh melihatnya sebagai kemunduran. Kemunduran? Yah, jika kita melihat dari tujuan pengajaran yang diinginkan.
Secara eksplisit, kita baru pada taraf asal siswa naik atau lulus. Kita belum masuk ke taraf bagaimana siswa setelah naik atau lulus. Padahal menurut E.T. Ruseffendi kegunaan pengajaran matematika di sekolah antara lain untuk berkomunikasi, meningkatkan kemampuan berpikir logik, menunjukkan fakta, menjelaskan persoalan, menunjang penggunaan alat-alat hasil tehnologi dan untuk peningkatan kebudayaan. Itulah sebenarnya tujuan pengajaran matematika di sekolah.
Kesimpulan
Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas, tak perlu kita cari siapakah yang paling salah. Terpenting, kita harus segera berbuat sesuatu untuk memecahkan problem warisan ini. Para guru harus berubah, berkembang, karena metematika sendiri selalu berkembang setiap detiknya.
Untuk para guru, perlakukan matematika sebagai yang dianjurkan oleh E.T. Ruseffendi: bahwa matematika adalah bahasa. Bagaimana para guru bisa membuat murid menerima penanaman konsep dengan lebih komunikatif dengan bahasa yang mudah dipahami, bukan sekedar deretan rumus yang siswa sendiri tak tahu bagaimana cara mendapatkannya.
Juga yang perlu diperhatikan, hendaknya guru membuat sendiri batasan maksimal penjabaran materi sesuai dengan tata nalar siswa berdasarkan kelasnya, dan memperhatikan pula beberapa materi prasyarat.
Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui, karena semua yang tertulis juga merupakan masalah yang dihadapi penulis. Terakhir, kita harus sadar matematika tak akan pernah mati. Matematika hilang ketika peradapan manusia telah lenyap. Karena Matematika adalah buah peradapan. Teruslah maju para guru. Karena Matematika akan terus berkembang menyertai kita.

readmore »»
Jika kita mau mencermati latar belakang masalahnya, kita tidak berhak menyalahkan begitu saja kecemasan para orang tua siswa. Sebenarnya, ada yang salah dalam pengajaran matematika di sekolah. Baik cara guru memperlakukan matematika, kurikulum sebagai learning screen, ketersediaan buku dan alat peraga, serta tujuan pengajaran matematika.
Kita mulai pada hakikat matematika. Menurut Herman Hudoyo dalam buku Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di depan Kelas: hakikat matematika adalah berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang tersusun menurut urutan yang logis. Tepatlah, jika semua komponen pendidikan memandang matematika sebuah sistem yang memuat unsur-unsur saling berkaitan.
Guru Sering Salah Memperlakukan Matematika
Guru sebagai komponen utama pendidikan sering kali salah memperlakukan matematika. Banyak guru yang menganggap matematika hanyalah ilmu berhitung yang memuat angka-angka yang harus segera dipecahkan dengan rumus. Banyak pula guru yang seakan berlomba menciptakan rumus cepat guna menolong siswanya belajar. Belum lagi, kecenderungan guru yang hanya memberi rumus/cara pemecahan soal tanpa penanaman konsep secara matang terlebih dahulu.
Sering kali guru rajin memberikan PR pada siswa, tapi lupa memegang tanggung jawab untuk following up, feedback, maupun rewarding bagi anak didiknya. Ini wajib tidak diremehkan, karena ide-ide, struktur-struktur dan urutan logis sebagai hakikat matematika tercakup di sana. Bayangkan, jika seringkali PR anak menumpuk, sesering pula dengan keengganan guru untuk sekedar membahas, menanyakan kendala pada siswa atau memberikan pujian pada siswa yang telah memahami materi.
Jangan kaget, jika suatu saat kita naik angkot atau bus dikeluh-kesahi oleh orang tua murid akan anaknya yang waktunya habis untuk mengerjakan PR, tapi sampai di sekolah disinggung oleh guru sedikit pun tidak. Ini realita, banyak terjadi di sekolah. Intinya guru hanya mengejar tuntas kewajiban: rumus sudah diberikan, siswa diajak mengerjakan latihan di sekolah, dan siswa pulang membawa PR.
Batasan Maksimal Penjabaran Materi dalam Kurikulum Tidak Ada
Pernahkah anda mendengar keluhan anak anda tentang tugas atau PR dari sekolah. Begitu sulitnya PR itu hingga membuat anak anda menangis karena saking takutnya dengan bayang-bayang sangsi guru dalam pikirannya. Misalnya, anak anda baru kelas 4 SD tetapi mendapat PR tentang sudut terkecil yang dibentuk oleh jarum jam pada pukul empat lebih dua puluh menit. Untuk anak kelas 4 SD pantas ia menangis, karena ini materi di awal SMP. Anak kelas 4 SD harusnya baru mengenal apakah itu sudut lancip, tumpul dan siku-siku.
Satu contoh lagi, anak kelas 7 SMP mendapat PR tentang kesebangunan segitiga. Meski materi itu sengaja dikait-kaitkan dengan materi Perbandingan Segmen Garis, tetapi secara konsep tidak nyantol. Karena segmen garis adalah hanya salah satu unsur segitiga dan materi kesebangunan segitiga baru diterima siswa di kelas IX.
Dari dua contoh di atas, jelas ada yang tidak pas pada kurikulum kita. Batasan maksimal penjabaran materi tidak ada. Sehingga, guru sembarang menghubung-hubungkan materi yang harus sudah dikuasai siswa dengan materi yang seharusnya masih melewati beberapa materi prasyarat lainnya. Imbasnya, materi-materi yang telah diterima siswa tidak menemui tata urutan logis atau lebih gampangnya saling tumpang tindih tidak karuan. Siswa makin sulit membongkar kembali.
Buku sebagai Pendukung Pembelajaran Kurang Memadai
Jika jaman dulu banyak kita temukan siswa yang tidak mempunyai buku karena sedikit buku yang beredar. Tetapi sekarang kenyataan hampir berbalik: buku yang beredar banyak sekali, tetapi yang sampai ke tangan siswa sedikit sekali. Hal ini karena makin mahalnya harga buku akibat semakin mahalnya harga kertas dan biaya cetak.
Pemerintah pun tanggap. Ada beberapa daerah yang mencetak sendiri buku ajar untuk sekolah dari SD sampai SMA. Dengan mencetak sendiri, pemerintah daerah bisa mendistribusikan sendiri buku ajar hingga sekolah-sekolah pelosok sekalipun secara gratis.
Ini harus kita acungi jempol. Tapi bukan berarti masalah tak ada. Mulai dari mutu tinta cetak, kesalahan tata bahasa, pengeditan yang tidak maksimal dan yang fatal adalah ketidak-sesuaian dengan kurikulum masih sering ditemui. Kita harus maklum, itulah kemampuan maksimal pemerintah daerah.
Sedangkan, buku-buku yang beredar di pasar yang dikuasai oleh tiga penerbit raksasa harganya semakin melangit. Dengan beban hidup masyarakat yang makin berat, tentunya daya beli sebagian besar orang tua murid tak sanggup menjangkaunya. Sehingga ketersediaan buku sebagai penunjang pembelajaran matematika perlu kita cermati sebagai masalah.
Tujuan Pengajaran Matematika Masih Menggantung
Pada awal-awal tahun ajaran, pengajaran matematika biasanya lebih santai. Tetapi begitu masuk semester II makin seriuslah guru mengajar (kalau tidak mau dikatakan ngongso). Mulailah dibuat jadwal tambahan di sore hari. Diberilah les privat bagi siswa yang butuh perhatian khusus. Dipanggillah orang tua siswa yang kurang prestasinya. Kepala sekolah pun mulai rajin rapat dengan guru-gurunya. Dan guru-guru pun makin rajin nyereweti muridnya.
Hal ini bisa kita pandang sebagai kemajuan. Tapi di sisi lain kita boleh melihatnya sebagai kemunduran. Kemunduran? Yah, jika kita melihat dari tujuan pengajaran yang diinginkan.
Secara eksplisit, kita baru pada taraf asal siswa naik atau lulus. Kita belum masuk ke taraf bagaimana siswa setelah naik atau lulus. Padahal menurut E.T. Ruseffendi kegunaan pengajaran matematika di sekolah antara lain untuk berkomunikasi, meningkatkan kemampuan berpikir logik, menunjukkan fakta, menjelaskan persoalan, menunjang penggunaan alat-alat hasil tehnologi dan untuk peningkatan kebudayaan. Itulah sebenarnya tujuan pengajaran matematika di sekolah.
Kesimpulan
Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas, tak perlu kita cari siapakah yang paling salah. Terpenting, kita harus segera berbuat sesuatu untuk memecahkan problem warisan ini. Para guru harus berubah, berkembang, karena metematika sendiri selalu berkembang setiap detiknya.
Untuk para guru, perlakukan matematika sebagai yang dianjurkan oleh E.T. Ruseffendi: bahwa matematika adalah bahasa. Bagaimana para guru bisa membuat murid menerima penanaman konsep dengan lebih komunikatif dengan bahasa yang mudah dipahami, bukan sekedar deretan rumus yang siswa sendiri tak tahu bagaimana cara mendapatkannya.
Juga yang perlu diperhatikan, hendaknya guru membuat sendiri batasan maksimal penjabaran materi sesuai dengan tata nalar siswa berdasarkan kelasnya, dan memperhatikan pula beberapa materi prasyarat.
Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui, karena semua yang tertulis juga merupakan masalah yang dihadapi penulis. Terakhir, kita harus sadar matematika tak akan pernah mati. Matematika hilang ketika peradapan manusia telah lenyap. Karena Matematika adalah buah peradapan. Teruslah maju para guru. Karena Matematika akan terus berkembang menyertai kita.

MENJADI GURU YANG KOMUNIKATIF
“Guru komunikatif mampu berkomunikasi secara bermakna dengan siswa”.
Setiap hari di dalam kelas guru harus berhadapan dengan bermacam karakter murid. Bermacam pula latar belakang lingkungannya. Faktor-faktor lingkungan yang biasa menyertai siswa antara lain: kesalahan-kesalahan pedagogis, keadaan kesehatan dan situasi rumah atau sekolah (yang menghasilkan gangguan-gangguan emosional atau gejala-gejala gangguan psikis).
Tugas utama mengajar bukan melulu melakukan sesuatu bagi siswa, tetapi lebih berupa menggerakkan murid melakukan hal-hal sesuai yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Bukan pula menerangkan hal-hal yang terdapat dalam buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motivasi-motivasi, dan membimbing siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Yang mutlak diperlukan di sini adalah tersambungnya komunikasi. Tentunya, komunikasi dua arah. Dari guru ke murid dan sebaliknya.
Ada dua macam komunikasi yang kita kedepankan di sini: komunikasi verbal dan non verbal. Penggunaan komunikasi verbal di dalam kelas hendaknya didesain seefisien mungkin, sehingga pembelajaran tidak menggusur format siswa sebagai subyek dan sentra aktivitas belajar.
Rangkaian pembelajaran harus mengarahkan siswa kepada tercapainya tujuan pembelajaran itu sendiri. Kata-kata bernuansa dorongan dan penyemangat lebih dibutuhkan siswa daripada ceramah-ceramah pengulangan materi. Kita harus membuang jauh-jauh model pembelajaran yang mengebiri aktivitas murid di dalam kelas, contohnya pembelajaran yang mutlak bertumpu pada aktivitas guru dan mengesampingkan kebutuhan murid secara naluriah.
Sebelum mengajar guru hendaknya merancang suatu pola komunikasi tertentu untuk mengatasi permasalahan anak didik di kelas. Kita sadari, bahwa ada beberapa anak yang tidak cukup hanya dengan komunikasi verbal, tetapi masih perlu dengan pendekatan-pendekatan individual secara intensif.
Banyak pula siswa yang lebih membutuhkan model komunikasi non verbal. Misalnya dengan body language, curahan perhatian, tulisan-tulisan suportif di buku tulisnya, misal: hebat, pintar, dan sebagainya. Semua bergantung pada karakter dan lingkungan sosial yang menyertai murid.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru adalah komunikasi dengan orang tua atau keluarga siswa. Di mana guru bertugas memberikan pelayanan kepada orang tua siswa. Beberapa kendala yang bisa muncul antara lain: sikap orang tua terhadap pendidikan bermacam-macam; kesibukan orang tua; tingkat pendidikan orang tua bervariasi sehingga model komunikasinya pun berbeda-beda; kebijakan personalia administrasi sekolah. Untuk itu para guru hendaknya mulai mengimbanginya dengan mencoba berberapa tehnologi komunikasi untuk membuka akses dengan orang tua.
Penggunaan tehnologi komunikasi secara efektif mampu membantu kinerja guru terutama dalam pelayanan terhadap orang tua. Lewat E-mail orang tua dapat berkomunikasi dua arah dengan guru tanpa harus bersusah payah bertatap muka di sekolah. Dengan membuat blog para guru memberi kesempatan kepada banyak orang untuk membaca dan memahami buah pikiran guru demi kemajuan pendidikan Indonesia. Berarti fungsi sebagai Public Relation bisa juga dijalankan oleh guru.
Kesimpulannya, guru yang komunikatif adalah guru yang mampu menggunakan alat-alat komunikasi baik verbal maupun non verbal dalam rangka membina hubungan dengan siswa dan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan.

readmore »»
Setiap hari di dalam kelas guru harus berhadapan dengan bermacam karakter murid. Bermacam pula latar belakang lingkungannya. Faktor-faktor lingkungan yang biasa menyertai siswa antara lain: kesalahan-kesalahan pedagogis, keadaan kesehatan dan situasi rumah atau sekolah (yang menghasilkan gangguan-gangguan emosional atau gejala-gejala gangguan psikis).
Tugas utama mengajar bukan melulu melakukan sesuatu bagi siswa, tetapi lebih berupa menggerakkan murid melakukan hal-hal sesuai yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Bukan pula menerangkan hal-hal yang terdapat dalam buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motivasi-motivasi, dan membimbing siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Yang mutlak diperlukan di sini adalah tersambungnya komunikasi. Tentunya, komunikasi dua arah. Dari guru ke murid dan sebaliknya.
Ada dua macam komunikasi yang kita kedepankan di sini: komunikasi verbal dan non verbal. Penggunaan komunikasi verbal di dalam kelas hendaknya didesain seefisien mungkin, sehingga pembelajaran tidak menggusur format siswa sebagai subyek dan sentra aktivitas belajar.
Rangkaian pembelajaran harus mengarahkan siswa kepada tercapainya tujuan pembelajaran itu sendiri. Kata-kata bernuansa dorongan dan penyemangat lebih dibutuhkan siswa daripada ceramah-ceramah pengulangan materi. Kita harus membuang jauh-jauh model pembelajaran yang mengebiri aktivitas murid di dalam kelas, contohnya pembelajaran yang mutlak bertumpu pada aktivitas guru dan mengesampingkan kebutuhan murid secara naluriah.
Sebelum mengajar guru hendaknya merancang suatu pola komunikasi tertentu untuk mengatasi permasalahan anak didik di kelas. Kita sadari, bahwa ada beberapa anak yang tidak cukup hanya dengan komunikasi verbal, tetapi masih perlu dengan pendekatan-pendekatan individual secara intensif.
Banyak pula siswa yang lebih membutuhkan model komunikasi non verbal. Misalnya dengan body language, curahan perhatian, tulisan-tulisan suportif di buku tulisnya, misal: hebat, pintar, dan sebagainya. Semua bergantung pada karakter dan lingkungan sosial yang menyertai murid.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru adalah komunikasi dengan orang tua atau keluarga siswa. Di mana guru bertugas memberikan pelayanan kepada orang tua siswa. Beberapa kendala yang bisa muncul antara lain: sikap orang tua terhadap pendidikan bermacam-macam; kesibukan orang tua; tingkat pendidikan orang tua bervariasi sehingga model komunikasinya pun berbeda-beda; kebijakan personalia administrasi sekolah. Untuk itu para guru hendaknya mulai mengimbanginya dengan mencoba berberapa tehnologi komunikasi untuk membuka akses dengan orang tua.
Penggunaan tehnologi komunikasi secara efektif mampu membantu kinerja guru terutama dalam pelayanan terhadap orang tua. Lewat E-mail orang tua dapat berkomunikasi dua arah dengan guru tanpa harus bersusah payah bertatap muka di sekolah. Dengan membuat blog para guru memberi kesempatan kepada banyak orang untuk membaca dan memahami buah pikiran guru demi kemajuan pendidikan Indonesia. Berarti fungsi sebagai Public Relation bisa juga dijalankan oleh guru.
Kesimpulannya, guru yang komunikatif adalah guru yang mampu menggunakan alat-alat komunikasi baik verbal maupun non verbal dalam rangka membina hubungan dengan siswa dan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan.

FORMULA BARU UNTUK PROBLEM KLASIK
“Krisis global yang menerpa negara-negara maju seolah sebagai pembenaran bahwa tehnologi saja tidak cukup mengatasi persoalan hidup. Kita perlu bentuk pendidikan yang memperhatikan aspek mental, moral, dan spiritual. Secara garis besar konsep tujuan pendidikan nasional sudah mampu mendefinisikan bentuk pendidikan tersebut. Tetapi pada tingkat implementasi yang terjadi justru sebaliknya.”
Tahun 2008 telah kita tinggalkan menyisakan permasalahan bagi pemerintah: sampai sejauh mana pendidikan memenuhi kebutuhan masyarakat. Krisis global yang menerpa negara-negara maju seolah sebagai pembenaran bahwa tehnologi saja tidak cukup mengatasi persoalan hidup. Tetapi kita perlu bentuk pendidikan yang multidimensi. Meliputi pendidikan mental, moral, dan spiritual.
Pendidikan mental lebih berguna untuk membekali masyarakat dalam menghadapi persoalan hidup yang makin berat. Ketersediaan BBM dan gas yang tak menentu, serta biaya sekolah yang makin menggila disadari atau tidak sangat membebani pikiran masyarakat.
Pengaruh budaya barat di tengah-tengah kehidupan masyarakat ikut andil menambah permasalahan hidup. Pergaulan bebas, narkotika, teknologi dunia maya (internet) adalah contoh kecil akar masalah moral masyarakat. Banyak tindakan kejahatan yang diilhami oleh gambar film impor dan berita dari internet. Lihatlah pesta pergantian tahun yang dihadiri pula oleh pejabat, bukankah itu budaya impor yang kita biarkan hadir di tengah-tengah himpitan ekonomi masyarakat. Daripada uang bermilyar-milyar itu kita bakar jadi kembang api lebih baik digunakan untuk kemaslahatan masyarakat. Untuk itu perlu pendidikan moral guna menyadarkan masyarakat.
Hidup semakin berat dan problematika hidup juga semakin beragam, apakah kita harus menyerah? Apakah kita hanya berpangku tangan menunggu perubahan jaman sambil menghitung hutang? Tentu tidak. Kita harus mampu merubah nasib kita dengan kegigihan kita sendiri. Dengan pendidikan spiritual masyarakat harus mampu mengatasi kesulitan hidupnya sebagai cara untuk menyalurkan semua potensinya.
Pemerintah sebagai sandaran masyarakat tentunya sudah mempunyai strategi sendiri untuk meningkatkan standar hidup masyarakat. Tetapi, pemerintah perlu juga membuat kalkulasi berapa persen kualitas pendidikan nasional berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pemerintah perlu meramu sebuah kurikulum yang mampu menjamin itu semua. Yaitu sebuah bentuk kurikulum yang mengakomodasi pendidikan mental, moral dan spiritual.
Secara garis besar konsep tujuan pendidikan nasional sudah mampu mendefinisikan bentuk pendidikan mental, moral dan spiritual. Yaitu membentuk masyarakat yang beriman, bertaqwa, berkualitas dan mandiri. Tetapi pada tingkat implementasi yang terjadi justru sebaliknya.
Ujian Nasional (UNAS) merupakan salah satu bentuk pengingkaran dari tujuan pendidikan nasional untuk membentuk masyarakat yang berkualitas dan mandiri. Kualitas dan kemandirian masyarakat tidak selalu bisa diukur dari nilai UNAS. Tetapi lebih pada kebermaknaan masyarakat itu di tengah-tengah lingkungan sosialnya.
Kita perlu juga menengok RUU BHP yang meresahkan masyarakat. Banyak pihak meyakini (terutama mahasiswa) bahwa RUU BHP mengingkari kedudukan lembaga sekolah atau perguruan tinggi sebagai lembaga sosial. Lembaga yang seharusnya memarginalkan hitungan untung dan rugi. RUU BHP seolah-olah menutup pintu bagi masyarakat miskin untuk memperoleh pendidikan tinggi yang merupakan haknya. Jika ini yang memang diinginkan, maka pemerintah gagal memberikan layanan pendidikan spiritual bagi masyarakat.
Sepantasnya pemerintah memikirkan paradigma baru untuk mengatasi persoalan hidup masyarakat. Pengentasan kemiskinan dengan cara-cara instan seperti pemberian BLT saatnya berganti dengan pendekatan yang lebih ke jantung permasalahan. Bahwa, masyarakat butuh model pendidikan yang mempersiapkan mereka secara mental, moral dan spiritual guna mengarungi hidup yang makin menantang ini. Masyarakat butuh formula baru untuk mengatasi problematika hidupnya yang sangat klasik, yaitu kemiskinan.
readmore »»
Tahun 2008 telah kita tinggalkan menyisakan permasalahan bagi pemerintah: sampai sejauh mana pendidikan memenuhi kebutuhan masyarakat. Krisis global yang menerpa negara-negara maju seolah sebagai pembenaran bahwa tehnologi saja tidak cukup mengatasi persoalan hidup. Tetapi kita perlu bentuk pendidikan yang multidimensi. Meliputi pendidikan mental, moral, dan spiritual.
Pendidikan mental lebih berguna untuk membekali masyarakat dalam menghadapi persoalan hidup yang makin berat. Ketersediaan BBM dan gas yang tak menentu, serta biaya sekolah yang makin menggila disadari atau tidak sangat membebani pikiran masyarakat.
Pengaruh budaya barat di tengah-tengah kehidupan masyarakat ikut andil menambah permasalahan hidup. Pergaulan bebas, narkotika, teknologi dunia maya (internet) adalah contoh kecil akar masalah moral masyarakat. Banyak tindakan kejahatan yang diilhami oleh gambar film impor dan berita dari internet. Lihatlah pesta pergantian tahun yang dihadiri pula oleh pejabat, bukankah itu budaya impor yang kita biarkan hadir di tengah-tengah himpitan ekonomi masyarakat. Daripada uang bermilyar-milyar itu kita bakar jadi kembang api lebih baik digunakan untuk kemaslahatan masyarakat. Untuk itu perlu pendidikan moral guna menyadarkan masyarakat.
Hidup semakin berat dan problematika hidup juga semakin beragam, apakah kita harus menyerah? Apakah kita hanya berpangku tangan menunggu perubahan jaman sambil menghitung hutang? Tentu tidak. Kita harus mampu merubah nasib kita dengan kegigihan kita sendiri. Dengan pendidikan spiritual masyarakat harus mampu mengatasi kesulitan hidupnya sebagai cara untuk menyalurkan semua potensinya.
Pemerintah sebagai sandaran masyarakat tentunya sudah mempunyai strategi sendiri untuk meningkatkan standar hidup masyarakat. Tetapi, pemerintah perlu juga membuat kalkulasi berapa persen kualitas pendidikan nasional berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pemerintah perlu meramu sebuah kurikulum yang mampu menjamin itu semua. Yaitu sebuah bentuk kurikulum yang mengakomodasi pendidikan mental, moral dan spiritual.
Secara garis besar konsep tujuan pendidikan nasional sudah mampu mendefinisikan bentuk pendidikan mental, moral dan spiritual. Yaitu membentuk masyarakat yang beriman, bertaqwa, berkualitas dan mandiri. Tetapi pada tingkat implementasi yang terjadi justru sebaliknya.
Ujian Nasional (UNAS) merupakan salah satu bentuk pengingkaran dari tujuan pendidikan nasional untuk membentuk masyarakat yang berkualitas dan mandiri. Kualitas dan kemandirian masyarakat tidak selalu bisa diukur dari nilai UNAS. Tetapi lebih pada kebermaknaan masyarakat itu di tengah-tengah lingkungan sosialnya.
Kita perlu juga menengok RUU BHP yang meresahkan masyarakat. Banyak pihak meyakini (terutama mahasiswa) bahwa RUU BHP mengingkari kedudukan lembaga sekolah atau perguruan tinggi sebagai lembaga sosial. Lembaga yang seharusnya memarginalkan hitungan untung dan rugi. RUU BHP seolah-olah menutup pintu bagi masyarakat miskin untuk memperoleh pendidikan tinggi yang merupakan haknya. Jika ini yang memang diinginkan, maka pemerintah gagal memberikan layanan pendidikan spiritual bagi masyarakat.
Sepantasnya pemerintah memikirkan paradigma baru untuk mengatasi persoalan hidup masyarakat. Pengentasan kemiskinan dengan cara-cara instan seperti pemberian BLT saatnya berganti dengan pendekatan yang lebih ke jantung permasalahan. Bahwa, masyarakat butuh model pendidikan yang mempersiapkan mereka secara mental, moral dan spiritual guna mengarungi hidup yang makin menantang ini. Masyarakat butuh formula baru untuk mengatasi problematika hidupnya yang sangat klasik, yaitu kemiskinan.
PERLUNYA METODE PEMBUKTIAN PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODERN
Demi perubahan fundamental menuntut arus reformasi pendidikan matematika mencakup pelajaran baru pada pihak guru. Karena, cara para guru memahami matematika sangat mempengaruhi pengajaran mereka dan apa yang dipelajari siswanya. Reformasi tersebut meliputi perubahan substansial pada alam dan peran metode pembuktian matematika di sekolah dan perubahan dirancang untuk menyiapkan semua siswa dengan berbagai cara dan pengalaman dengan seluruh pembuktian tercakup dalam kurikulum matematika sekolah.
Mungkin hal tersebut sulit untuk guru. Karena kebanyakan guru memandang metode pembuktian hanya cocok bagi sebagian kecil siswa saja. Selain itu guru cenderung memandang metode pembuktian adalah sebuah strategi terbatas secara pedagogis, yakni sebagai topik studi bukannya sebagai alat untuk berkomunikasi dan mempelajari matematika.
Mengajar matematika merupakan suatu kegiatan guru agar siswa belajar untuk mendapatkan matematika, yaitu kemampuan, keterampilan dan sikap tentang matematika itu. Kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dipilih pengajar itu harus relevan dengan tujuan belajar dan disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa.
Berkenaan dengan gambaran di atas, perlu kiranya guru mengaplikasikan sebuah metode pengajaran: metode pembuktian. Metode ini berjalan dari yang tidak diketahui menuju yang sudah diketahui. Dimulai dengan apa yang harus dicari atau dibuktikan, kemudian mengaitkan dengan hal-hal yang diketahui dan hingga akhirnya diperoleh hasil. Dalam hal ini guru dan siswa perlu komitmen yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan pemahaman matematika siswa. Siswa belajar dengan mengaitkan pengetahuan terdahulu, sehingga guru hendaknya memahami apa yang telah siswa ketahui sebelumnya. Guru yang mendesain pengalaman dan pembelajaran untuk menjawab dan membangun pengetahuan yang baru.
Penalaran dan pembuktian matematika menawarkan suatu cara untuk mengembangkan wawasan siswa tentang fenomena. Pembuktian matematika adalah suatu cara formal untuk mengungkapkan alasan dan justifikasi khusus. Dengan mengembangkan ide, melihat tanda-tanda, membuat kesimpulan, dan menggunakan hasil dalam semua cabang matematika, maka diharapkan siswa memahami matematika sebagai sebuah hal yang selalu masuk akal. Untuk itu sangat diperlukan kemampuan siswa membuat argumen-argumen yang meliputi deduksi logis yang kuat tentang kesimpulan suatu hipotesis.
Manfaat artikel ini bagi guru adalah memberikan gambaran bahwa matematika tidak selalu harus membenturkannya dengan siswa pada sebuah konsep abstrak yang membuat siswa jenuh. Selain itu memberikan masukan bagaimana melatih siswa berpikir kritis dan kreatif dalam membuat permasalahan, dan pemecahannya dengan memberi keleluasaan pada siswa untuk membuktikan kebenaran hasil pemecahan masalah tersebut. Dan lebih jauh, untuk membangun sistem pembelajaran matematika di Indonesia yang efektif.
readmore »»
Mungkin hal tersebut sulit untuk guru. Karena kebanyakan guru memandang metode pembuktian hanya cocok bagi sebagian kecil siswa saja. Selain itu guru cenderung memandang metode pembuktian adalah sebuah strategi terbatas secara pedagogis, yakni sebagai topik studi bukannya sebagai alat untuk berkomunikasi dan mempelajari matematika.
Mengajar matematika merupakan suatu kegiatan guru agar siswa belajar untuk mendapatkan matematika, yaitu kemampuan, keterampilan dan sikap tentang matematika itu. Kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dipilih pengajar itu harus relevan dengan tujuan belajar dan disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa.
Berkenaan dengan gambaran di atas, perlu kiranya guru mengaplikasikan sebuah metode pengajaran: metode pembuktian. Metode ini berjalan dari yang tidak diketahui menuju yang sudah diketahui. Dimulai dengan apa yang harus dicari atau dibuktikan, kemudian mengaitkan dengan hal-hal yang diketahui dan hingga akhirnya diperoleh hasil. Dalam hal ini guru dan siswa perlu komitmen yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan pemahaman matematika siswa. Siswa belajar dengan mengaitkan pengetahuan terdahulu, sehingga guru hendaknya memahami apa yang telah siswa ketahui sebelumnya. Guru yang mendesain pengalaman dan pembelajaran untuk menjawab dan membangun pengetahuan yang baru.
Penalaran dan pembuktian matematika menawarkan suatu cara untuk mengembangkan wawasan siswa tentang fenomena. Pembuktian matematika adalah suatu cara formal untuk mengungkapkan alasan dan justifikasi khusus. Dengan mengembangkan ide, melihat tanda-tanda, membuat kesimpulan, dan menggunakan hasil dalam semua cabang matematika, maka diharapkan siswa memahami matematika sebagai sebuah hal yang selalu masuk akal. Untuk itu sangat diperlukan kemampuan siswa membuat argumen-argumen yang meliputi deduksi logis yang kuat tentang kesimpulan suatu hipotesis.
Manfaat artikel ini bagi guru adalah memberikan gambaran bahwa matematika tidak selalu harus membenturkannya dengan siswa pada sebuah konsep abstrak yang membuat siswa jenuh. Selain itu memberikan masukan bagaimana melatih siswa berpikir kritis dan kreatif dalam membuat permasalahan, dan pemecahannya dengan memberi keleluasaan pada siswa untuk membuktikan kebenaran hasil pemecahan masalah tersebut. Dan lebih jauh, untuk membangun sistem pembelajaran matematika di Indonesia yang efektif.
METODE PEMBUKTIAN PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Matematika merupakan pelajaran yang menakutkan bagi kebanyakan siswa. Terutama pada materi yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam. Misalkan materi trigonometri kelas X. Seringkali guru langsung memberikan rumus jadi tanpa didahului dengan asal-usul rumus tersebut. Sehingga hal ini membuat siswa kurang memahami konsep.
Untuk itu diperlukan sebuah metode pengajaran yang berporos pada siswa. Pembelajaran yang meminimalisasi peran guru sebagai sumber pembelajaran satu-satunya di kelas. Bisa dikatakan, sudah saatnya kita menghanyutkan diri pada arus reformasi pendidikan menuju samudera pendidikan yang sangat berkualitas baik proses maupun produknya.
Reformasi tersebut meliputi perubahan substansial pada strategi pembelajaran dengan peran metode pembuktian matematika di sekolah. Perubahan tersebut dirancang untuk menyiapkan semua siswa dengan berbagai cara, dan seluruh aspek pembuktian tercakup dalam kurikulum matematika sekolah.
Mungkin hal tersebut sulit untuk guru. Karena kebanyakan guru memandang metode pembuktian hanya cocok bagi sebagian kecil siswa saja. Selain itu guru cenderung memandang metode pembuktian adalah sebuah strategi terbatas secara pedagogis, yakni sebagai topik studi bukannya sebagai alat untuk berkomunikasi dan mempelajari matematika.
Mengajar matematika merupakan suatu kegiatan guru agar siswa belajar untuk mendapatkan matematika, yaitu kemampuan, keterampilan dan sikap tentang matematika itu. Kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dipilih pengajar itu harus relevan dengan tujuan belajar dan disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa.
Berkenaan dengan gambaran di atas, perlu kiranya guru mengaplikasikan sebuah metode pengajaran: metode pembuktian. Metode ini berjalan dari yang tidak diketahui menuju yang sudah diketahui. Dimulai dengan apa yang harus dicari atau dibuktikan, kemudian mengaitkan dengan hal-hal yang diketahui dan hingga akhirnya diperoleh hasil. Dalam hal ini guru dan siswa perlu komitmen yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan pemahaman matematika siswa. Siswa belajar dengan mengaitkan pengetahuan terdahulu, sehingga guru hendaknya memahami apa yang telah siswa ketahui sebelumnya. Guru yang mendesain pengalaman dan pembelajaran untuk menjawab dan membangun pengetahuan yang baru.
Penalaran dan pembuktian matematika menawarkan suatu cara untuk mengembangkan wawasan siswa tentang fenomena. Pembuktian matematika adalah suatu cara formal untuk mengungkapkan alasan dan justifikasi khusus. Dengan mengembangkan ide, melihat tanda-tanda, membuat kesimpulan, dan menggunakan hasil dalam semua cabang matematika, maka diharapkan siswa memahami matematika sebagai sebuah hal yang selalu masuk akal. Untuk itu sangat diperlukan kemampuan siswa membuat argumen-argumen yang meliputi deduksi logis yang kuat tentang kesimpulan suatu hipotesis.
Dalam penelitian ini akan dirumuskan masalah sejauh mana peran metode pembuktian pada pembelajaran matematika materi rumus-rumus segitiga kelas X. Sebagai sampel adalah murid kelas X SMA Negeri Kayen Pati.
Manfaat penelitian ini bagi guru adalah memberikan gambaran bahwa matematika tidak selalu harus membenturkannya dengan siswa pada sebuah konsep abstrak yang membuat siswa jenuh. Selain itu memberikan masukan bagaimana melatih siswa berpikir kritis dan kreatif dalam membuat permasalahan, dan pemecahannya dengan memberi keleluasaan pada siswa untuk membuktikan kebenaran hasil pemecahan masalah tersebut. Dan lebih jauh, untuk membangun sistem pembelajaran matematika di Indonesia yang efektif.
readmore »»
Untuk itu diperlukan sebuah metode pengajaran yang berporos pada siswa. Pembelajaran yang meminimalisasi peran guru sebagai sumber pembelajaran satu-satunya di kelas. Bisa dikatakan, sudah saatnya kita menghanyutkan diri pada arus reformasi pendidikan menuju samudera pendidikan yang sangat berkualitas baik proses maupun produknya.
Reformasi tersebut meliputi perubahan substansial pada strategi pembelajaran dengan peran metode pembuktian matematika di sekolah. Perubahan tersebut dirancang untuk menyiapkan semua siswa dengan berbagai cara, dan seluruh aspek pembuktian tercakup dalam kurikulum matematika sekolah.
Mungkin hal tersebut sulit untuk guru. Karena kebanyakan guru memandang metode pembuktian hanya cocok bagi sebagian kecil siswa saja. Selain itu guru cenderung memandang metode pembuktian adalah sebuah strategi terbatas secara pedagogis, yakni sebagai topik studi bukannya sebagai alat untuk berkomunikasi dan mempelajari matematika.
Mengajar matematika merupakan suatu kegiatan guru agar siswa belajar untuk mendapatkan matematika, yaitu kemampuan, keterampilan dan sikap tentang matematika itu. Kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dipilih pengajar itu harus relevan dengan tujuan belajar dan disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa.
Berkenaan dengan gambaran di atas, perlu kiranya guru mengaplikasikan sebuah metode pengajaran: metode pembuktian. Metode ini berjalan dari yang tidak diketahui menuju yang sudah diketahui. Dimulai dengan apa yang harus dicari atau dibuktikan, kemudian mengaitkan dengan hal-hal yang diketahui dan hingga akhirnya diperoleh hasil. Dalam hal ini guru dan siswa perlu komitmen yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan pemahaman matematika siswa. Siswa belajar dengan mengaitkan pengetahuan terdahulu, sehingga guru hendaknya memahami apa yang telah siswa ketahui sebelumnya. Guru yang mendesain pengalaman dan pembelajaran untuk menjawab dan membangun pengetahuan yang baru.
Penalaran dan pembuktian matematika menawarkan suatu cara untuk mengembangkan wawasan siswa tentang fenomena. Pembuktian matematika adalah suatu cara formal untuk mengungkapkan alasan dan justifikasi khusus. Dengan mengembangkan ide, melihat tanda-tanda, membuat kesimpulan, dan menggunakan hasil dalam semua cabang matematika, maka diharapkan siswa memahami matematika sebagai sebuah hal yang selalu masuk akal. Untuk itu sangat diperlukan kemampuan siswa membuat argumen-argumen yang meliputi deduksi logis yang kuat tentang kesimpulan suatu hipotesis.
Dalam penelitian ini akan dirumuskan masalah sejauh mana peran metode pembuktian pada pembelajaran matematika materi rumus-rumus segitiga kelas X. Sebagai sampel adalah murid kelas X SMA Negeri Kayen Pati.
Manfaat penelitian ini bagi guru adalah memberikan gambaran bahwa matematika tidak selalu harus membenturkannya dengan siswa pada sebuah konsep abstrak yang membuat siswa jenuh. Selain itu memberikan masukan bagaimana melatih siswa berpikir kritis dan kreatif dalam membuat permasalahan, dan pemecahannya dengan memberi keleluasaan pada siswa untuk membuktikan kebenaran hasil pemecahan masalah tersebut. Dan lebih jauh, untuk membangun sistem pembelajaran matematika di Indonesia yang efektif.
Cermat Memilih Sekolah
Sebagaimana memilih presiden, memilih sekolah untuk anak memerlukan strategi khusus. Sebab setiap sekolah berusaha merebut konsumennya dengan beragam kiat juga. Orang tua harus jitu jangan sampai ujung-ujungnya merasa kena tipu.
Mungkin benar kata banyak orang bahwa semua di dunia ini sudah bergeser. Sekolah yang dulu sebagai lembaga sosial, kini sudah berganti rupa sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Lihatlah biaya masuk di sekolah berlabel Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang membuat kita merinding. Orang tua harus mengeluarkan uang berkisar 10-20 juta persiswa baru hanya untuk barang yang berlabel “rintisan”.
Program RSBI dicanangkan oleh pemerintah memang bertujuan baik, yaitu memberikan standarisasi proses pendidikan yang setara dengan kurikulum berkonten internasional. Permasalahan yang kemudian muncul adalah sekolah-sekolah berlabel RSBI berani memasang tarif yang “gila-gilaan”. Dengan biaya masuk sebesar itu tentunya sekolah RSBI hanya mampu terjangkau oleh kaum berkantong tebal. Pertanyaan bodohnya: untuk apa uang itu?
Belum Layak
Banyak keluhan yang dilontarkan orang tua yang anaknya terlanjur masuk di sekolah RSBI. Mulai kemampuan guru mengajar yang biasa-biasa saja, fasilitas yang kurang memadai, hingga model pembelajaran bilingual yang membingungkan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa program RSBI belum layak dihargai sebesar itu.
Bila dirunut akar munculnya berbagai keluhan tersebut, kita dapatkan bahwa telah terjadi kesalahan interpretasi. Banyak sekolah berlomba mengejar label RSBI dengan memberikan kursus bahasa Inggris pada guru-gurunya, agar mereka mampu mengajar dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sekolah tidak memperhitungkan kemampuan SDM guru-gurunya. Apalagi sebagian besar dari mereka sudah termasuk guru yang mendekati purna tugas.
Sebenarnya mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris bukanlah persoalan sulit. Yang penting murid faham dan tujuan pembelajaran tercapai. Tapi bukan itu standarisasi yang dianjurkan. Karena konten kurikulum internasional dalam kurikulum pendidikan kita harus menghasilkan murid yang tidak sekedar pintar berbahasa Inggris. Tetapi ketika murid tersebut ingin mendaftar pada sekolah di mana pun di seluruh dunia ini, ia akan masuk pada kelas yang “semestinya” tanpa ada penyesuaian-penyesuaian.
Persoalannya: sudahkah dunia mengakui level pendidikan kita?
Serahkan pada Anak
Idealnya sebagai orang tua tentu mendambakan anaknya bisa bersekolah di sekolah favorit dengan segala labelnya. Selain agar anak tidak menemui kesulitan belajar, juga bisa untuk kebangaan keluarga. Tetapi ada baiknya orang tua menyerahkan sepenuhnya pada anak karena merekalah yang akan merasakan semuanya. Biarlah anak memilih sekolah favorit yang diinginkannya.
Yang terpenting orang tua harus yakin bahwa sekolah yang diinginkan anak mampu memberikan jaminan prestasi sesuai/melampaui potensi anak. Karena sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu menghasilkan siswa berprestasi level 10 untuk siswa dengan potensi level 1.
readmore »»
Mungkin benar kata banyak orang bahwa semua di dunia ini sudah bergeser. Sekolah yang dulu sebagai lembaga sosial, kini sudah berganti rupa sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Lihatlah biaya masuk di sekolah berlabel Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang membuat kita merinding. Orang tua harus mengeluarkan uang berkisar 10-20 juta persiswa baru hanya untuk barang yang berlabel “rintisan”.
Program RSBI dicanangkan oleh pemerintah memang bertujuan baik, yaitu memberikan standarisasi proses pendidikan yang setara dengan kurikulum berkonten internasional. Permasalahan yang kemudian muncul adalah sekolah-sekolah berlabel RSBI berani memasang tarif yang “gila-gilaan”. Dengan biaya masuk sebesar itu tentunya sekolah RSBI hanya mampu terjangkau oleh kaum berkantong tebal. Pertanyaan bodohnya: untuk apa uang itu?
Belum Layak
Banyak keluhan yang dilontarkan orang tua yang anaknya terlanjur masuk di sekolah RSBI. Mulai kemampuan guru mengajar yang biasa-biasa saja, fasilitas yang kurang memadai, hingga model pembelajaran bilingual yang membingungkan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa program RSBI belum layak dihargai sebesar itu.
Bila dirunut akar munculnya berbagai keluhan tersebut, kita dapatkan bahwa telah terjadi kesalahan interpretasi. Banyak sekolah berlomba mengejar label RSBI dengan memberikan kursus bahasa Inggris pada guru-gurunya, agar mereka mampu mengajar dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sekolah tidak memperhitungkan kemampuan SDM guru-gurunya. Apalagi sebagian besar dari mereka sudah termasuk guru yang mendekati purna tugas.
Sebenarnya mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris bukanlah persoalan sulit. Yang penting murid faham dan tujuan pembelajaran tercapai. Tapi bukan itu standarisasi yang dianjurkan. Karena konten kurikulum internasional dalam kurikulum pendidikan kita harus menghasilkan murid yang tidak sekedar pintar berbahasa Inggris. Tetapi ketika murid tersebut ingin mendaftar pada sekolah di mana pun di seluruh dunia ini, ia akan masuk pada kelas yang “semestinya” tanpa ada penyesuaian-penyesuaian.
Persoalannya: sudahkah dunia mengakui level pendidikan kita?
Serahkan pada Anak
Idealnya sebagai orang tua tentu mendambakan anaknya bisa bersekolah di sekolah favorit dengan segala labelnya. Selain agar anak tidak menemui kesulitan belajar, juga bisa untuk kebangaan keluarga. Tetapi ada baiknya orang tua menyerahkan sepenuhnya pada anak karena merekalah yang akan merasakan semuanya. Biarlah anak memilih sekolah favorit yang diinginkannya.
Yang terpenting orang tua harus yakin bahwa sekolah yang diinginkan anak mampu memberikan jaminan prestasi sesuai/melampaui potensi anak. Karena sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu menghasilkan siswa berprestasi level 10 untuk siswa dengan potensi level 1.
05 Agustus 2009
Silabus dan RPP
SILABUS DAN RPP
Sebelum mengajar hendaknya guru mempersiapkan diri dengan membuat rencana pengajaran (RPP).
Download
readmore »»
Sebelum mengajar hendaknya guru mempersiapkan diri dengan membuat rencana pengajaran (RPP).
Download
Label:
Perangkat mengajar
03 Agustus 2009
Pengertian Tanda Sama dengan
Apakah Pengertian Tanda Samadengan?
Bukti dari Penyelesaian Persamaan
Download
Label:
Matematika is JOSS
13 Juli 2009
Jurnal-jurnal Pembelajaran Matematika
TEACHING, LEARNING AND MATHEMATICS
Download
readmore »»
Pearson (1989) tells us that the intention of teaching is ‘bringing about
learning’ (p. 64; my emphasis).
Through a study of mathematics teaching, we therefore learn about the ways in which mathematics teaching brings about the learning of mathematics.
Such study provides insights into how mathematics teaching develops or can develop for the enhancement of mathematics learning of students.
Of course, teaching does not develop in the abstract, but through the growth of knowledge and experience of mathematics teachers as they engage in the practices and processes of teaching and participate in activities related to their own learning as teachers.
The perspectives and practices of educators, working with teachers to foster and facilitate teacher learning are as much objects of study as those of teachers working with students.
The research process at all these levels is itself a learning enterprise.
Thus, teachers, educators and researchers are all learners and our integration of research and practice is fundamentally a study of learning.
learning’ (p. 64; my emphasis).
Through a study of mathematics teaching, we therefore learn about the ways in which mathematics teaching brings about the learning of mathematics.
Such study provides insights into how mathematics teaching develops or can develop for the enhancement of mathematics learning of students.
Of course, teaching does not develop in the abstract, but through the growth of knowledge and experience of mathematics teachers as they engage in the practices and processes of teaching and participate in activities related to their own learning as teachers.
The perspectives and practices of educators, working with teachers to foster and facilitate teacher learning are as much objects of study as those of teachers working with students.
The research process at all these levels is itself a learning enterprise.
Thus, teachers, educators and researchers are all learners and our integration of research and practice is fundamentally a study of learning.
Download
Label:
Jurnal Pendidikan
Jurnal-jurnal Pendidikan Nasional dan Internasional
GUEST EDITORIAL
PETER SULLIVAN
ICME AND TEACHER EDUCATION
Download seluruhnya
readmore »»
PETER SULLIVAN
ICME AND TEACHER EDUCATION
One of the pressing challenges for mathematics educators is to identify the language, concepts, principles, and practices that can be the shared basis of professional dialog.
International meetings such as the 9th International Congress onMathematics Education (ICME 9) allow educators to consider commonalities and differences in ways that are perhaps not possible within individual national contexts.
For example, mathematics educators have expressed considerable interest in teaching approaches seen as typical in particular countries.
ICME 9 provided opportunities for educators to discuss, first hand, Japanese approaches to teaching mathematics.
In a similar way, ICME 9 allowed consideration of similarities and differences in teacher education practices.
International meetings such as the 9th International Congress onMathematics Education (ICME 9) allow educators to consider commonalities and differences in ways that are perhaps not possible within individual national contexts.
For example, mathematics educators have expressed considerable interest in teaching approaches seen as typical in particular countries.
ICME 9 provided opportunities for educators to discuss, first hand, Japanese approaches to teaching mathematics.
In a similar way, ICME 9 allowed consideration of similarities and differences in teacher education practices.
Download seluruhnya
Label:
Jurnal Pendidikan
28 Juni 2009
02 Juni 2009
Sukses UASBN Matematika
Membuat siswa siap menghadapi UN sedini mungkin. Cermati materi yang bikin siswa tidak paham.
Download
readmore »»
Download
Label:
soal-soal uasbn sd
29 Mei 2009
CONTOH PROPOSAL PTK MATEMATIKA
A. JUDUL USULAN
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dengan Model Pembelajaran Heroik dan Turnamen
Matematika Materi Peluang kelas X
B. BIDANG KAJIAN
Bidang kajian adalah penelitian pendidikan dengan PTK.
C. PENDAHULUAN
Selengkapnya ..... Download
readmore »»
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dengan Model Pembelajaran Heroik dan Turnamen
Matematika Materi Peluang kelas X
B. BIDANG KAJIAN
Bidang kajian adalah penelitian pendidikan dengan PTK.
C. PENDAHULUAN
Guru memandang siswa SMA adalah individu yang menginjak proses dewasa. Oleh karena itu setiap guru mata pelajaran selalu memberi tantangan dengan menyodorkan sejumlah masalah baru kepada siswa untuk menyelesaikannya, termasuk pelajaran matematika. Pembelajaran matematika mengajarkan pemecahan masalah (problem solving) tidak hanya untuk keperluan mata pelajaran matematika saja, karena matematika mendasari ilmu-ilmu lain. Dalam melakukan proses hitung-menghitung, proses menentukan langkah efisien (algoritma) penyelesaian masalah, menentukan logika kebenaran keputusan yang akan diambil, dan lain sebagainya, hal ini diajarkan di matematika dan dibutuhkan oleh orang-orang non matematika. Jadi merupakan suatu kesempatan bagi siswa SMA yang sedang berada pada kondisi kritis dalam berpikir, perlu dilatih secara terus menerus melakukan problem solving melalui pembelajaran matematika.
Selengkapnya ..... Download
Sekolah Kok Sepi

Ketika waktuku terasa habis karena mengajar, acapkali aku merindu waktu bersantai. Kugantung rencana-rencana pengisi waktu santaiku di sekolah. Baca buku, ngeblog, ngenet, bikin tugas kuliah, dan sebagainya. Eih, waktu itu pun akhirnya tiba. Seminggu ke depan muridku libur. Senyumku menyungging.....tapi kenapa dua jam berikutnya, kurasa kecut senyumku, kuyakini sengau tawaku.
Akhirnya ku tahu ada yang pergi dari hadapanku. Kepak sayap Kupu-kupu kecilku sedang jauh dari hadapku. Nyaringnya dering dawai sayap Lebah-lebah maduku tak datang di hadapku. Sekolah kok sepi.....gumanku kontradiktif dengan rencanaku.
Masih bolehkah aku berencana lagi untuk "nyantai"
Label:
curahan hatiku
Langganan:
Postingan (Atom)
