SELAMAT DATANG DI DUNIA MATEMATIKA

15 Juni 2010

Sekolah Swasta Bisa Jadi Pilihan

Menjelang peringatan 65 tahun Indonesia merdeka, sebaiknya kita merenung sampai sejauh mana perjalanan pendidikan bangsa ini. Semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani masihkah pantas kita dengung-dengungkan, sedangkan permasalahan pendidikan nasional datang silih berganti tanpa kita tahu kapan berakhir.Kurikulum baru yang selalu muncul dengan beberapa kontroversi, sertfikasi guru yang semrawut dengan banyak implikasinya, ujian nasional dengan segala keruwetannya, BOS, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, Penerimaan Peserta Didik (PPD) sudah cukup untuk menunjukkan bahwa permasalahan pendidikan nasional ibarat anak gunung yang dari waktu ke waktu semakin besar dan seakan tak terselesaikan.
Seminggu terakhir keprihatinan kita terpancing ketika membaca keluh kesah orang tua di beberapa surat kabar mengenai proses seleksi murid baru jalur khusus di beberapa sekolah negeri. Inikah wajah dunia pendidikan Indonesia? Ketika kewajiban menuntut ilmu terganjal oleh suatu proses yang justru dikendalikan oleh lembaga penyelenggara pendidikan yaitu sekolah.

Bergeser
Sekolah adalah lembaga yang dipercaya masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan nasional. Keberadaan sekolah bertujuan mewadahi keinginan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sudah sepantasnya perkembangan sekolah selalu melibatkan peran serta masyarakat.
Peranan sekolah dituntut tanggap dan fungsional terhadap kelangsungan dan perkembangan masyarakat sekitarnya. Sekolah menanggung kewajiban fungsional terhadap masyarakat, yaitu dengan penyiapan dan pembinaan masyarakat sehingga memiliki kemampuan dan pribadi yang diharapkan.
Sekolah adalah lembaga sosial, bukan sebuah institusi yang diharapkan memenuhi hukum dagang: untung dan rugi. Sekolah berkembang dari dan untuk masyarakat.
Tapi mencermati proses penerimaan peserta didik jalur khusus di beberapa sekolah negeri, penulis menyimpulkan bahwa fungsi sekolah telah bergeser. Sekolah bukan lagi sekedar lembaga sosial. Dan ada sebuah ironi: sekolah negeri yang didirikan pemerintah sebagai motor penggerak kemajuan pendidikan ternyata limbung untuk memenuhi kelangsungan hidupnya sendiri, sehingga membebankannya di pundak orang tua. Sampai-sampai ada kepala sekolah negeri ketika ditanya tentang tingginya biaya masuk sekolah beralasan bahwa sekolahnya belum punya laboratorium komputer dan untuk memperluas ruang kelas.
Bagaimana pemerintah bisa ngomong anggaran pendidikan sudah memadai. Apa pula maksudnya slogan sekolah gratis dari para calon kepala daerah ketika kampanye menjelang pilkada.
Jalur khusus PPD sebenarnya diperuntukkan bagi calon siswa sekitar sekolah yang kurang mampu; siswa yang berkontribusi besar dalam peningkatan mutu pendidikan; dan siswa berprestasi akademik, olah raga, kesenian, dan keterampilan baik pribadi maupun kelompok. Dan jalur ini tetap memperhatikan nilai UAN calon siswa.
Tapi pada prakteknya nilai nominal sumbangan orang tualah sebagai faktor penentu diterima atau tidaknya calon siswa lewat jalur khusus ini. Bisa disimpulkan bahwa tujuan program jalur khusus ini pun telah bergeser.

Sekolah Swasta
Sekolah swasta lahir karena keinginan dan aspirasi sebagian masyarakat tidak mampu terakomodasi oleh sekolah negeri. Hal ini merupakan refleksi dari dua segi hubungan sekolah dan masyarakat, yaitu: i)masyarakat adalah partner sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional; ii)sekolah adalah produser yang mewadahi keinginan-keinginan yang muncul di masyarakat.
Karena didirikan oleh perorangan atau sekelompok masyarakat (bukan pemerintah) sudah barang tentu sekolah swasta berusaha menjaga eksistensinya dengan memberikan sentuhan dan warna untuk menarik animo dari calon peserta didik tanpa menunggu-nunggu uluran bantuan dari pemerintah. Mulai dari tampilan luar sekolah (gedung dan fasilitas) hingga tenaga guru, pelayanan kepada siswa, dan kurikulum plus.
Dalam memenuhi keberlangsungan hidupnya sekolah swasta mengandalkan dari sumbangan orang tua lewat SPP. Itu pun tidak mutlak, karena ada beberapa sekolah yang didukung oleh sebuah lembaga swadaya yang bergerak dan menempatkan dirinya sebagai penyedia dana sehingga sekolah bagi beberapa siswa benar-benar gratis, bebas uang SPP.
Tapi, sudah cukup banyak sekolah swasta yang gulung tikar karena tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup di tengah-tengah persaingan dengan sekolah negeri/swasta lainnya. Bagaimana dapat meraih animo calon siswa jika hanya untuk promosi saja tidak mampu. Belum lagi biaya operasional yang dari waktu ke waktu terus membumbung.
Selayaknya pemerintah menyadari bahwa keberadaan sekolah swasta memang diperlukan sebagai kompetitor, penyeimbang, sekaligus kontrol bagi proses pendidikan di sekolah negeri. Sudah waktunya pemerintah memperhatikan kelangsungan sekolah-sekolah swasta dengan memberikan BOS (Bantuan Operional Sekolah) secara periodik dengan implementasi yang lebih fleksibel.
Pendirian sekolah baru (baik negeri atau swasta) lebih diatur guna menjaga kelangsungan hidup sekolah yang telah ada sebelumnya. Untuk apa sekolah baru terus bermunculan jika tidak bisa berperan secara fungsional. Karena disadari atau tidak bergesernya fungsi sekolah sebagai lembaga sosial bisa mengancam pendidikan nasional hingga akhirnya mempengaruhi sendi-sendi bangsa dan negara.
readmore »»  

17 Februari 2010

Tak Ada Murid yang Sama

Selama lima belas tahun menjadi guru, baru sekali penulis mengajar tiga pasang anak kembar sekaligus dalam waktu setahun. Setiap pasangnya adalah sekelas, sehingga mudah dibandingkan secara langsung. Dua pasang di antaranya sangat mirip secara fisik. Sepasang lagi berlainan jenis kelamin.
Pasangan pertama, kita sebut saja A dan B, berlainan sifat satu sama lain. A termasuk murid perempuan yang centil, selalu ceria, dan secara umum sedikit lebih pintar dibanding kembarannya. Tetapi, dari sisi emosinya, si A lebih mudah meledak-ledak. Sedangkan B cenderung tenang, murah senyum, lebih sabar, dan menonjol pada bidang studi matematika.
Pada pasangan kedua (kita sebut saja C dan D), C adalah siswi pendiam, tenang, dan kelihatan ngemong terhadap kembarannya. D lebih kelihatan sebagai siswi yang lebih pandai mendapatkan teman, menyukai kebersamaan, tetapi sensitif. Dari segi kognitif pun mereka berbeda.
Dari dua contoh di atas kita menyadari, bahwa Tuhan meciptakan manusia dengan ciri-ciri khususnya. Tak akan pernah ada dua makhluk yang tercipta mutlak sama. Pasti masing-masing memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Pada anak kembar sekali pun.
Sebagai guru seyogyanya menyadari bahwa murid-murid kita adalah pribadi yang unik. Memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Tidak mau disamakan dengan yang lain. Sehingga perlakuan dan individual approach-nya pun harus berbeda-beda.
Ada tiga faktor penentu keunikan pribadi siswa, yaitu: keturunan (heredity); lingkungan (environment), dan diri (self). Keturunan menjadi penentu pada pembentukan sifat dan potensi yang relatif sukar berubah dengan pengalaman pembelajaran. Faktor keturunan ini berperan bagi pertumbuhan fisik, mental maupun sifat kepribadian yang diinginkan. Lingkungan meliputi keadaan sosial sekitar, kebiasaan-kebiasaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi berperan membentuk pribadi anak dari luar. Termasuk juga bahasa yang berfungsi untuk menyerap kebudayaan masyarakat di mana anak tinggal. Sedangkan, faktor diri yaitu kehidupan kejiwaan anak, di dalamnya meliputi: perasaan, usaha, pikiran, pandangan, minat, penilaian, harapan, keyakinan yang berpengaruh pada tujuan atas tindakan yang dilakukan.

Implementasi di Sekolah
Sekolah bisa menyelenggarakan aktivitas belajar karena ada kurikulum yang sudah dibakukan, tetapi masih banyak pihak yang salah mengurai dan menjabarkan (misinterpreted) fungsi kurikulum. Kurikulum selalu hanya dipandang sebagai alat untuk pengembangan kemampuan intelektual anak (proses kognitif): kemampuan berpikir untuk menyelesaikan masalah. Alhasil, dalam praktek guru hanya melihat produk atau hasil dari proses belajar mengajar. Seringkali siswa yang bermasalah dalam belajar tidak tertangani dengan semestinya. Biasanya, cap anak bodoh, anak lemot, anak malas mudah disematkan pada anak-anak yang mengalami masalah prestasi belajar.
Di sekolah (termasuk juga SLB) bisa kita temukan berbagai macam karakter, potensi, emosi, minat, bakat, perasaan, perhatian dan sebagainya yang terdapat pada peserta didik. Sayangnya, itu semua tidak terakomodasi di dalam kurikulum kita. Karena kurikulum masih dianggap sebagai timbangan beras, sedangkan indikator dan kompetensi dasar dianggap sebagai anak timbangan (bandul). Sehingga semua yang dicapai oleh anak harus sesuai dengan standar yang ditentukan.
Belum lagi, banyak potensi dan usaha anak yang tidak terasah oleh kurikulum di sekolah. Karena sekolah masih menganggap anak didik sebagai kumpulan obyek yang harus mendapatkan perlakuan sama. Kapan anak bisa mengaktualisasikan dirinya?

Kurikulum Humanistik
Kita harus menyadari bahwa fungsi humanistis dari kurikulum: untuk mengaktualisasikan diri. Kurikulum yang mengutamakan perkembangan anak sebagai individu yang unik dalam segala aspek kepribadian. Dengan model kurikulum humanistik ini tugas pendidikan yang utama adalah mengembangkan anak sebagai individu yang unik sekaligus sebagai makhluk sosial.
Dengan kurikulum yang humanistik tugas sekolah selain meberikan materi ajar, adalah memberi kebebasan, kemandirian, hak untuk mengembangkan diri, serta mengembangkan fisik dan emosionalnya. Model pembelajaran yang benar-benar child-centered yang mengutamakan ekspresi diri secara kreatif, individualitas, aktivitas pertumbuhan dari dalam diri siswa sendiri, bebas oleh paksaan dari luar.
Semoga pemerintah cepat memahami bahwa tidak akan pernah ada siswa yang sama. Sehingga kurikulum betul-betul memberikan wadah kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi, minat, keyakinan dan usaha siswa secara individualitas. Amin.

readmore »»  

22 Desember 2009

MENGAJAR, PEMBELAJARAN DAN MATEMATIKA

Pearson (1989) mengatakan bahwa tujuan mengajar adalah menyempurnakan pembelajaran. Dengan menggunakan sebuah studi pengajaran matematika, kita akan memahami cara bagaimana pengajaran matematika menyempunakan pembelajaran matematika. Studi seperti itu memberikan pengertian yang mendalam bagaimana pengajaran matematika berkembang atau dapat meningkatkan hasil pembelajaran matematika pada siswa. Tentu saja pengajaran tidak berkembang secara abstrak, tetapi melalui pertumbuhan pengetahuan dan pengalaman guru matematika dalam mengajar. Secara perspektif dan praktis pendidik bekerja dengan guru untuk membantu perkembangan dan memfasilitasi guru dalam pembelajaran matematika. Kegiatan penelitian pada tingkatan ini adalah mengusahakan pembelajaran pada diri sendiri. Kemudian guru, pendidik, dan peneliti mengintegrasian kegiatan penelitian dan praktek studi pembelajaran yang mendasar.
Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan eksplorasi dan eksperimen sebagai alat pemecahaan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika.
Kemajuan suatu bangsa tercermin pada keberlangsungan pendidikan bangsa itu. Bangsa dengan tingkat pendidikan yang memadai diyakini mampu menciptakan kehidupan yang beradap. Artinya peningkatan mutu pendidikan dianggap sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Oleh karena itu, pendidikan perlu mendapat perhatian yang besar agar kita dapat mengejar ketertinggalan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi yang mutlak kita perlukan untuk mengisi pembangunan.
Guru memegang peran strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dari dimensi tersebut, peran guru sulit digantikan oleh yang lain. Dipandang dari dimensi tehnologi peran guru tetap dominan sekalipun tehnologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat. Hal ini disebabkan ada dimensi-dimensi proses pendidikan, atau lebih khusus lagi proses pembelajaran, yang diperankan oleh guru yang tidak dapat digantikan oleh tehnologi.
Peningkatan kualitas pendidikan dasar harus dilaksanakan secara terpadu, sistematis, bertahap dan berkesinambungan. Hal ini dilaksanakan terhadap:
1. Kesiswaan, terutama yang menyangkut aspek terjadinya drop out dan mengulang kelas, pembinaan pertumbuhan fisik siswa dan pembinaan mutu proses dan hasil belajarnya.
2. Ketenangan, baik guru maupun non guru.
3. Kurikulum serta sarana dan prasarana.
4. Penyediaan dana dan pengelolaannya.
5. Organisasi dan majemen sekolah.
6. Proses belajar mengajar.
7. Kerjasama sekolah dan masyarakat melelui komite sekolah.
Seringkali dalam pembelajaran matematika di kelas guru mendominasi kegiatan tersebut. Poros pembelajaran mutlak ada pada guru, sehingga proses belajar mengajar berjalan satu arah. Guru kurang mampu mengakomodasi permasalahan siswa-siswanya. Hal ini karena dengan jumlah jam mengajar yang terbatas, guru dituntut melaksanakan pembelajaran yang selalu menguras tenaga dan pikiran dengan model pembelajaran konvensional.
Dengan model pembelajaran konvensional siswa seakan hanya sebagai obyek pembelajaran. Setiap individu siswa pasti mempunyai tingkat pemahaman materi yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki tingkat permasalahan yang berbeda-beda. Artinya dengan model pembelajaran yang mengesampingkan peran siswa akan memberikan dampak kurang baik pada prestasi belajarnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu diperlukan kemampuan untuk memperoleh, dan mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran, antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika.

readmore »»  

Indahnya Punya Pemimpin Cerdas Spiritual

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Baik pemimpin negara, daerah, kantor, atau bahkan pemimpin rumah tangga. Ada 4 kecerdasan yang diperlukan, yaitu kecerdasan fisik, intelegensi, mental dan spritual.
Kecerdasan spiritual memberi kita kemampuan membedakan kecerdasan spiritual memberi kita rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku, dibarengi dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Kita menggunakan kecerdasan spiritual untuk bergulat dengan ihwal baik dan jahat, serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum terwujud untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri kita dari kerendahan. Tidak semua orang yang pengetahuan agamanya luas atau tekun beribadah bisa menjadi pemimpin yang berkecerdasan spiritual.
Menurut Joe Loper ciri-ciri orang berkecerdasan spiritual tinggi adalah sebagai berikut:
1. Fleksibel (luwes), baik dalam sikap maupun cara berpikir
2. Kemampuan refleksi tinggi
3. Kesadaran terhadap diri dan lingkungan tinggi
4. Kemampuan berkontemplasi tinggi
5. Berfikir secara holistik (mengaitkan satu dengan lain hal)
6. Berani menghadapi dan memanfaatkan penderitaan (pasrah, ikhlas)
7. Berani melawan arus atau tradisi
8. Memelihara alam semesta.

Sedangkan berdasarkan teori Zohar dan Marshall (2001) dan Sinetar (2001) ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai kesadaran diri. Adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari antuasi yang datang dan menanggapinya.
2. Mempunyai visi. Ada pemahaman tentang tujuan hidupnya, mempunyai kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
3. Fleksibel. Mampu bersikap fleksibel, menyesuaikan diri secara spontan dan aktif untuk mencapai hasil yang baik, mempunyai pandangan yang pragmatis (sesuai kegunaan) dan efisien tentang realitas.
4. Berpandangan holistik. Melihat bahwa diri sendiri dan orang lain saling terkait dan bisa melihat keterkaitan antara berbagai hal. Dapat memandang kehidupan yang lebih besar sehingga mampu menghadapi dan memanfaatkan serta melampaui, kesengsaraan dan rasa sehat serta memandangnya sebagai suatu visi dan mencari makna dibaliknya.
5. Melakukan perubahan. Terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi dan status quo, menjadi orang yang bebas merdeka.
6. Sumber inspirasi. Mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, mempunyai gagasan-gagasan yang segar dan aneh.
7. Refleksi diri, mempunyai kecenderungan apakah yang mendasar dan pokok.

Aspek-aspek dalam kecerdasan spiritual

Sinetar (2001) menuliskan beberapa aspek dalam kecerdasan spiritual, yaitu :
1. Kemampuan seni untuk memilih, kemampuan untuk memilih dan menata hingga ke bagian-bagian terkecil ekspresi hidupnya berdasarkan suatu visi batin yang tetap dan kuat yang memungkinkan hidup mengorganisasikan bakat.
2. Kemampuan seni untuk melindungi diri. Individu mempelajari keadaan dirinya, baik bakat maupun keterbatasannya untuk menciptakan dan menata pilihan terbaiknya.
3. Kedewasaaan yang diperlihatkan. Kedewasaan berarti kita tidak menyembunyikan kekuatan-kekuatan kita dan ketakutan dan sebagai konsekuensinya memilih untuk menghindari kemampuan terbaik kita.
4. Kemampuan mengikuti cinta. Memilih antara harapan-harapan orang lain di mata kita penting atau kita cintai.
5. Disiplin-disiplin pengorbanan diri. Mau berkorban untuk orang lain, pemaaf tidak prasangka mudah untuk memberi kepada orang lain dan selalu ingin membuat orang lain bahagia.

Cara Meningkatkan Kecerdasan Spiritual yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari :
1. Seringlah melakukan perenungan (kontemplasi) mengenai diri sendiri, kaitan hubungan dengan orang lain, serta peristiwa yang dihadapi. Hal ini untuk memahami makna atau nilai dari setiap kejadian dalam kehidupan.
2. Kenali tujuan hidup, tanggung jawab, dan kewajiban dalam hidup kita. Jika segalanya mudah, lancar dan membahagiakan, berarti destiny (tujuan hidup) cocok. Sebaliknya bila banyak rintangan dan kegagalan, berarti tidak cocok.
3. Tumbuhkan kepedulian, kasih sayang, dan kedamaian.
4. Pekakan diri terhadap bisikan, inspirasi dan intuisi. Inilah proses channeling dengan Tuhan. Datangnya sering simbolik, terkadang linier.
5. Ambil hikmah dari segala perubahan di dalam kehidupan (termasuk penderitaan) sebagai jalan untuk peningkatan mutu kehidupan kita.
6. Kembangkan tim kerja dan kemitraan, yang saling asah-asih-asuh.
7. Belajar melayani dan rendah hati.

readmore »»  

20 Oktober 2009

Jangan Takut Tertawa

Ternyata tertawa bisa sebagai kebutuhan hidup. Banyak terapi penyakit dilakukan dengan membiasakan tertawa. Tentunya tertawa yang teratur, artinya kita tertawa karena memang ada yang perlu dan harus ditertawakan. Kalau nggak bisa bahaya he...he...he...
Orang yang takut/malu tertawa dan enggan membuat orang lain tertawa, bisa-bisa ia menderita penyakit GELOTOPHOBIA. Hah...!!! GAWAT!!!
Tertawa juga bisa sebagai cara mengukur kecerdasan seseorang. Semakin cerdas seseorang semakin pandai ia merespon cerita-cerita humor.
Ada empat golongan orang berkaitan dengan selera humor.
• Orang dengan selera humor minim adalah orang yang tak sekalipun tertawa ketika ada rangsangan humor.
• Orang berselera humor sedang sangat bergantung dengan suasana hati. Ia tertawa hanya sebatas "kadang-kadang".
• Orang berselera humor tinggi mampu membuat joke-joke segar dan memberikan respon sangat memuaskan terhadap rangsangan humor. Ia mampu membunuh kegalauan hatinya hanya dengan tertawa dan melucu
• Orang berselera humor kebablasan adalah orang yang kita kenal sebagai orang yang "cengengesan" dan "cengar-cengir" nggak bisa diajak serius.

Tertawa Bisa Sebagai Obat yang Terbaik

Adalah domapin, bahan kimia dalam otak yang bertanggungawab memicu otak untuk memulai tahapan mencerna suatu humor. Dopamin ini memungkinkan kita merasa nyaman saat kita tertawa. Beberapa studi mendemontsrasikan perbaikan kondisi kesehatan pasien yang kronis saat distimulasi dengan hal-hal lucu. Maka pepatah yang mengatakan bahwa tertawa adalah obat terbaik sungguhan terbukti.



readmore »»  

27 Agustus 2009

Mengapa Matematika Jadi Momok

Matematika sebagai momok menakutkan bagi sebagian besar siswa tentu sudah kita amini sejak lama. Sering kita dengar cerita orang tua tentang betapa cemasnya mereka akan nilai matematika anak di sekolah. Belum lagi, begitu stresnya orang tua menjelang UAN ataupun UASBN. Sehingga terpaksa ada anggaran tambahan untuk guru les/privat matematika, demi jaminan nilai aman pada UAN atau UASBN.

Jika kita mau mencermati latar belakang masalahnya, kita tidak berhak menyalahkan begitu saja kecemasan para orang tua siswa. Sebenarnya, ada yang salah dalam pengajaran matematika di sekolah. Baik cara guru memperlakukan matematika, kurikulum sebagai learning screen, ketersediaan buku dan alat peraga, serta tujuan pengajaran matematika.

Kita mulai pada hakikat matematika. Menurut Herman Hudoyo dalam buku Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di depan Kelas: hakikat matematika adalah berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang tersusun menurut urutan yang logis. Tepatlah, jika semua komponen pendidikan memandang matematika sebuah sistem yang memuat unsur-unsur saling berkaitan.

Guru Sering Salah Memperlakukan Matematika

Guru sebagai komponen utama pendidikan sering kali salah memperlakukan matematika. Banyak guru yang menganggap matematika hanyalah ilmu berhitung yang memuat angka-angka yang harus segera dipecahkan dengan rumus. Banyak pula guru yang seakan berlomba menciptakan rumus cepat guna menolong siswanya belajar. Belum lagi, kecenderungan guru yang hanya memberi rumus/cara pemecahan soal tanpa penanaman konsep secara matang terlebih dahulu.

Sering kali guru rajin memberikan PR pada siswa, tapi lupa memegang tanggung jawab untuk following up, feedback, maupun rewarding bagi anak didiknya. Ini wajib tidak diremehkan, karena ide-ide, struktur-struktur dan urutan logis sebagai hakikat matematika tercakup di sana. Bayangkan, jika seringkali PR anak menumpuk, sesering pula dengan keengganan guru untuk sekedar membahas, menanyakan kendala pada siswa atau memberikan pujian pada siswa yang telah memahami materi.

Jangan kaget, jika suatu saat kita naik angkot atau bus dikeluh-kesahi oleh orang tua murid akan anaknya yang waktunya habis untuk mengerjakan PR, tapi sampai di sekolah disinggung oleh guru sedikit pun tidak. Ini realita, banyak terjadi di sekolah. Intinya guru hanya mengejar tuntas kewajiban: rumus sudah diberikan, siswa diajak mengerjakan latihan di sekolah, dan siswa pulang membawa PR.

Batasan Maksimal Penjabaran Materi dalam Kurikulum Tidak Ada

Pernahkah anda mendengar keluhan anak anda tentang tugas atau PR dari sekolah. Begitu sulitnya PR itu hingga membuat anak anda menangis karena saking takutnya dengan bayang-bayang sangsi guru dalam pikirannya. Misalnya, anak anda baru kelas 4 SD tetapi mendapat PR tentang sudut terkecil yang dibentuk oleh jarum jam pada pukul empat lebih dua puluh menit. Untuk anak kelas 4 SD pantas ia menangis, karena ini materi di awal SMP. Anak kelas 4 SD harusnya baru mengenal apakah itu sudut lancip, tumpul dan siku-siku.

Satu contoh lagi, anak kelas 7 SMP mendapat PR tentang kesebangunan segitiga. Meski materi itu sengaja dikait-kaitkan dengan materi Perbandingan Segmen Garis, tetapi secara konsep tidak nyantol. Karena segmen garis adalah hanya salah satu unsur segitiga dan materi kesebangunan segitiga baru diterima siswa di kelas IX.
Dari dua contoh di atas, jelas ada yang tidak pas pada kurikulum kita. Batasan maksimal penjabaran materi tidak ada. Sehingga, guru sembarang menghubung-hubungkan materi yang harus sudah dikuasai siswa dengan materi yang seharusnya masih melewati beberapa materi prasyarat lainnya. Imbasnya, materi-materi yang telah diterima siswa tidak menemui tata urutan logis atau lebih gampangnya saling tumpang tindih tidak karuan. Siswa makin sulit membongkar kembali.

Buku sebagai Pendukung Pembelajaran Kurang Memadai

Jika jaman dulu banyak kita temukan siswa yang tidak mempunyai buku karena sedikit buku yang beredar. Tetapi sekarang kenyataan hampir berbalik: buku yang beredar banyak sekali, tetapi yang sampai ke tangan siswa sedikit sekali. Hal ini karena makin mahalnya harga buku akibat semakin mahalnya harga kertas dan biaya cetak.
Pemerintah pun tanggap. Ada beberapa daerah yang mencetak sendiri buku ajar untuk sekolah dari SD sampai SMA. Dengan mencetak sendiri, pemerintah daerah bisa mendistribusikan sendiri buku ajar hingga sekolah-sekolah pelosok sekalipun secara gratis.
Ini harus kita acungi jempol. Tapi bukan berarti masalah tak ada. Mulai dari mutu tinta cetak, kesalahan tata bahasa, pengeditan yang tidak maksimal dan yang fatal adalah ketidak-sesuaian dengan kurikulum masih sering ditemui. Kita harus maklum, itulah kemampuan maksimal pemerintah daerah.
Sedangkan, buku-buku yang beredar di pasar yang dikuasai oleh tiga penerbit raksasa harganya semakin melangit. Dengan beban hidup masyarakat yang makin berat, tentunya daya beli sebagian besar orang tua murid tak sanggup menjangkaunya. Sehingga ketersediaan buku sebagai penunjang pembelajaran matematika perlu kita cermati sebagai masalah.

Tujuan Pengajaran Matematika Masih Menggantung
Pada awal-awal tahun ajaran, pengajaran matematika biasanya lebih santai. Tetapi begitu masuk semester II makin seriuslah guru mengajar (kalau tidak mau dikatakan ngongso). Mulailah dibuat jadwal tambahan di sore hari. Diberilah les privat bagi siswa yang butuh perhatian khusus. Dipanggillah orang tua siswa yang kurang prestasinya. Kepala sekolah pun mulai rajin rapat dengan guru-gurunya. Dan guru-guru pun makin rajin nyereweti muridnya.
Hal ini bisa kita pandang sebagai kemajuan. Tapi di sisi lain kita boleh melihatnya sebagai kemunduran. Kemunduran? Yah, jika kita melihat dari tujuan pengajaran yang diinginkan.
Secara eksplisit, kita baru pada taraf asal siswa naik atau lulus. Kita belum masuk ke taraf bagaimana siswa setelah naik atau lulus. Padahal menurut E.T. Ruseffendi kegunaan pengajaran matematika di sekolah antara lain untuk berkomunikasi, meningkatkan kemampuan berpikir logik, menunjukkan fakta, menjelaskan persoalan, menunjang penggunaan alat-alat hasil tehnologi dan untuk peningkatan kebudayaan. Itulah sebenarnya tujuan pengajaran matematika di sekolah.

Kesimpulan
Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas, tak perlu kita cari siapakah yang paling salah. Terpenting, kita harus segera berbuat sesuatu untuk memecahkan problem warisan ini. Para guru harus berubah, berkembang, karena metematika sendiri selalu berkembang setiap detiknya.
Untuk para guru, perlakukan matematika sebagai yang dianjurkan oleh E.T. Ruseffendi: bahwa matematika adalah bahasa. Bagaimana para guru bisa membuat murid menerima penanaman konsep dengan lebih komunikatif dengan bahasa yang mudah dipahami, bukan sekedar deretan rumus yang siswa sendiri tak tahu bagaimana cara mendapatkannya.
Juga yang perlu diperhatikan, hendaknya guru membuat sendiri batasan maksimal penjabaran materi sesuai dengan tata nalar siswa berdasarkan kelasnya, dan memperhatikan pula beberapa materi prasyarat.
Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui, karena semua yang tertulis juga merupakan masalah yang dihadapi penulis. Terakhir, kita harus sadar matematika tak akan pernah mati. Matematika hilang ketika peradapan manusia telah lenyap. Karena Matematika adalah buah peradapan. Teruslah maju para guru. Karena Matematika akan terus berkembang menyertai kita.
readmore »»